"Jika tidak bisa mendapatkan yang asli, mereka ingin yang palsu. Tidak ada yang benar-benar peduli kenapa.
Itu hanya tren dan semua orang menginginkannya. Tapi sekarang orang tampaknya kehilangan minat.
Saya pikir itu hanya tren yang berlalu."
Pengamatannya mencerminkan apa yang digambarkan banyak pengamat industri sebagai sifat budaya konsumen modern.
Produk naik dan turun berdasarkan eksposur media sosial, konten viral, dan selera yang berubah, bukan asal negara.
Kim Dae-jong, profesor administrasi bisnis di Universitas Sejong, mengatakan popularitas merek China mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam cara konsumen mengevaluasi produk.
"Faktor terpenting saat ini bukanlah apakah suatu produk berasal dari China atau negara lain," kata Kim.
"Yang penting adalah apakah merek tersebut menawarkan desain yang menarik, nilai emosional, dan pengalaman yang sesuai dengan konsumen."
Dia mengatakan keberhasilan produk mulai dari Labubu hingga merek teh susu menunjukkan bahwa konsumen Korea semakin membuat keputusan pembelian berdasarkan kualitas, desain, dan relevansi budaya, bukan asal negara.
"Orang Korea sangat terhubung dengan ekonomi global dan termasuk wisatawan paling aktif di dunia," kata Kim. "Akibatnya, ada sedikit resistensi terhadap merek asing.
Jika suatu produk menarik dan menyenangkan, konsumen bersedia menerimanya terlepas dari asalnya."
Cho Yoon-ju, direktur Korean Food Grand Master Center, mengatakan popularitas produk China yang meningkat harus dipandang sebagai bagian dari proses globalisasi budaya yang lebih luas.
"Apakah suatu makanan atau merek berasal dari China bukanlah faktor terpenting," kata Cho.
"Seperti makanan Korea yang menyebar secara global dan beradaptasi dengan budaya lokal, budaya luar negeri secara alami masuk ke Korea.
Ini adalah bagian dari pertukaran budaya yang lebih luas."
Cho menambahkan bahwa konsumen Korea telah menerima berbagai masakan asing selama bertahun-tahun, termasuk pho Vietnam, sushi Jepang, dan minuman teh susu.
>>> Busan Mobility Show 2026: Pameran Otomotif Meluas ke Darat, Laut, dan Udara
Menurutnya, konsumen pada akhirnya menentukan produk mana yang bertahan di pasar berdasarkan kualitas dan preferensi pribadi, bukan asal negara.
