Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir Rabu (17/6).
Keputusan ini merupakan yang pertama sejak Kevin Warsh resmi menjabat sebagai Ketua The Fed pada 22 Mei lalu.
>>> Saham AS Berfluktuasi Setelah Sinyal Kenaikan Suku Bunga dari The Fed
Keputusan diambil secara bulat oleh seluruh anggota FOMC. Ini adalah kali keempat berturut-turut The Fed menahan suku bunga.
Langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran dampak ekonomi dari perang AS-Israel melawan Iran.
Proyeksi Suku Bunga dan Inflasi
Berdasarkan proyeksi ekonomi terbaru, suku bunga dana federal diperkirakan berada di 3,8 persen pada akhir tahun ini.
Angka itu naik dari proyeksi Maret sebesar 3,4 persen.
Sebanyak sembilan dari 19 peserta FOMC memperkirakan biaya pinjaman akan lebih tinggi pada akhir tahun. Warsh sendiri tidak menyerahkan proyeksi dot plot.
>>> The Fed Tahan Suku Bunga, Sinyalkan Kenaikan Satu Kali Akhir Tahun
Inflasi masih menjadi perhatian utama.
Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Mei naik 4,2 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga energi akibat perang.
Warsh menegaskan bahwa FOMC berkomitmen untuk mencapai stabilitas harga. "Kami menyadari inflasi telah berjalan jauh di atas target 2 persen selama lebih dari lima tahun," ujarnya.
Produk Domestik Bruto (PDB) AS diperkirakan tumbuh 2,2 persen tahun ini, sedikit lebih rendah dari proyeksi Maret sebesar 2,4 persen.
Sementara itu, inflasi PCE diproyeksikan mencapai 3,6 persen pada akhir tahun, melonjak dari proyeksi Maret 2,7 persen.
>>> Trump: Kesepakatan dengan Iran Akan Ditandatangani 'Sebentar Lagi'
Keputusan The Fed ini membuat selisih suku bunga antara Korea Selatan dan AS mencapai hingga 1,25 poin persentase.
