Wabah Ebola kembali melanda Afrika, kali ini di Republik Demokratik Kongo. Namun, upaya penanganan terkendala oleh banyaknya pasien yang lebih memilih berobat ke dukun tradisional daripada rumah sakit.
Banyak masyarakat setempat menganggap demam berdarah sebagai penyakit spiritual. Mereka lebih memilih ramuan herbal dan doa daripada perawatan medis modern.
>>> AS dan Iran Tandatangani Kesepakatan Awal Akhiri Perang, Buka Selat Hormuz
Kepercayaan pada Dukun Memperburuk Penyebaran
Di Bunia, pusat wabah di provinsi Ituri, misinformasi tentang Ebola merajalela. Salah satu rumor menyebut Ebola disebarkan oleh orang jahat yang menjatuhkan jimat ajaib ke jamban.
Onesphore Bangenza dari Mercy Corps mengatakan banyak orang menggambarkan Ebola sebagai sesuatu yang mistis atau dibawa oleh orang luar.
Mereka baru datang ke rumah sakit saat kondisi sudah parah.
Virus Langka Bundibugyo
Wabah saat ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, jenis Ebola langka yang belum ada obat atau vaksinnya. Wilayah terdampak juga menghadapi kekerasan bersenjata dan pengungsian.
Wabah dikonfirmasi pada 15 Mei, namun diduga infeksi sudah terjadi sejak Februari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat.
Pemerintah AS memberlakukan larangan sementara bagi orang tanpa paspor AS yang baru mengunjungi Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan.
Peran Pemuka Agama dan Dukun
Pekerja kemanusiaan mendorong pemuka agama untuk terlibat dalam memerangi Ebola. Seorang katekis yang baru sembuh dari Ebola di Mongbwalu mengakui kesalahannya tidak segera ke rumah sakit.
Vincent Isimbwa, tetua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, mengatakan gejala Ebola yang mengerikan membuat beberapa korban lebih memilih privasi di tempat dukun.
>>> AS dan Iran Tandatangani Kesepakatan Awal Akhiri Perang, Buka Selat Hormuz