Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal pada Rabu (17/6) yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara.
Kesepakatan itu mulai berlaku segera setelah ditandatangani, menurut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang turut menjadi mediator.
>>> Pemerintah Targetkan Peluncuran Sistem Perlinsos Digital Berbasis AI pada 2026
Dalam kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk mengencerkan stok uranium yang diperkaya tinggi, sementara AS memberikan keringanan sanksi dan mengizinkan Iran menjual minyak secara bebas.
Isi Kesepakatan Awal
Kesepakatan ini mencakup penghentian permusuhan secara permanen dan membuka negosiasi selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran.
Trump menandatangani salinan fisik saat makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles.
Di Tehran, Presiden Pezeshkian menandatangani dokumen yang sama, sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA.
Salah satu poin penting adalah pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol selama dua bulan, yang sebelumnya ditutup akibat perang dan menyebabkan krisis energi global.
>>> The Fed Tahan Suku Bunga, Proyeksi Kenaikan Akhir Tahun
AS juga berkomitmen untuk menghapus sanksi secara bertahap, termasuk yang terkait dengan program senjata dan pelanggaran HAM Iran, meskipun jadwalnya akan ditentukan kemudian.
Konsesi Besar dan Reaksi
Kesepakatan ini memberikan konsesi besar kepada Iran, termasuk izin menjual minyak secara bebas dan potensi pencairan dana beku hingga $300 miliar untuk rekonstruksi.
Namun, Trump membuka kemungkinan untuk membatalkan kesepakatan jika tidak sesuai keinginannya.
Kesepakatan ini menuai kritik di Washington dan dianggap sebagai kemunduran bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Israel sebelumnya menolak syarat penarikan dari Lebanon yang menjadi bagian dari kesepakatan.
>>> Saham AS Berfluktuasi Setelah Sinyal Kenaikan Suku Bunga dari The Fed
Pembukaan Selat Hormuz diharapkan memberikan kelegaan bagi ekonomi global yang tertekan akibat kenaikan harga energi selama perang.
