Pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Minggu (21/6) berlangsung tegang setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman melalui media sosial.
Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di kawasan resor Burgenstock, dekat Danau Lucerne.
>>> Wakil Presiden AS Vance Bertemu Pejabat Tinggi Iran di Swiss
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya 60 hari untuk mencapai kesepakatan teknis yang berdampak besar pada ekonomi global dan keamanan dunia.
Ancaman Trump Picu Ketegangan
Trump menulis di media sosial bahwa Iran harus segera menghentikan "proxy bayaran tinggi" mereka di Lebanon, jika tidak, AS akan "menghantam Iran lagi, lebih keras dari sebelumnya".
Menanggapi hal itu, Qalibaf menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons dengan cara yang berbeda. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pembicaraan memasuki "fase sulit" dan diskors sementara.
Delegasi Iran kemudian bertemu dengan mediator Qatar dan meninggalkan lokasi perundingan.
Namun, seorang pejabat yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan bahwa delegasi Iran tetap terlibat dan tidak berniat meninggalkan meja perundingan.
Fokus Iran pada Lebanon
Iran ingin pembicaraan terlebih dahulu berfokus pada konflik di Lebanon, di mana militer Israel berperang melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Gencatan senjata baru di Lebanon yang dimediasi pada Sabtu tampaknya bertahan, dan Israel akan melonggarkan pembatasan pergerakan warga di dekat perbatasan pada Senin pagi.
Namun, baik Israel maupun Hizbullah bukan pihak dalam kesepakatan AS-Iran, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertekad mempertahankan pasukannya di Lebanon selatan sampai ancaman terhadap Israel dihilangkan.
>>> Erdogan Perintahkan Pembicaraan Kembali Buka Seminari Ortodoks di Turki