unique visitors counter
alt top
⌂ Beranda Lifestyle Batu Kecemasan: Tren Gen Z Atasi Stres dengan Cara Sederhana

Batu Kecemasan: Tren Gen Z Atasi Stres dengan Cara Sederhana

Batu Kecemasan: Tren Gen Z Atasi Stres dengan Cara Sederhana
Ilustrasi: Batu Kecemasan: Tren Gen Z Atasi Stres dengan Cara Sederhana
A A Ukuran Teks16px
alt mid

Batu kecil mulus yang pas di saku semakin populer di kalangan anak muda sebagai alat pereda kecemasan.

Pakar menyebut tren ini mencerminkan pencarian cara sederhana mengelola stres di tengah tekanan pekerjaan dan studi.

>>> KTT APEC Picu Lonjakan Wisatawan di Gyeongju, Ibu Kota Kuno Korea

alt top

Batu yang disebut 'worry stone' ini memiliki cekungan dangkal seukuran ibu jari di bagian tengah. Praktiknya sudah ada sejak Yunani kuno.

Menggosok permukaan batu membantu seseorang merasa lebih tenang saat mengalami suasana hati buruk atau kecemasan.

Bersama bola stres dan mainan fidget, alat portabel ini memberikan kelegaan sementara selama bekerja atau belajar.

alt mid

Efeknya berasal dari kesadaran penuh dan pengalihan perhatian. Fokus pada sensasi fisik di tangan mengalihkan pikiran dari stres.

Manfaat Sementara, Bukan Solusi Jangka Panjang

Lee Jun-hee, profesor psikiatri di Seoul St. Mary's Hospital, mengatakan prinsipnya adalah 'meredakan ketegangan fisik dan meningkatkan stabilitas emosional dengan menjauh sejenak dari kekhawatiran masa depan dan fokus pada sensasi saat ini'.

Namun, Lee mengingatkan bahwa alat ini hanya memberikan kelegaan sementara dan tidak mengobati gangguan kecemasan. Alat ini berfungsi sebagai alat bantu jangka pendek, bukan solusi jangka panjang.

'Daripada terlalu bergantung pada alat, penting untuk mengembangkan kemampuan mengelola kecemasan sendiri,' katanya.

>>> Sutradara 'KPop Demon Hunters' Kunjungi Lotte World Adventure

Alternatif dan Saran Pakar

Latihan pernapasan dalam menjadi cara umum mengelola kecemasan tanpa benda. Lee merekomendasikan teknik menggunakan perut.

Tarik napas melalui hidung selama empat detik sambil mengembangkan diafragma, tahan napas empat detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut selama enam detik.

Ulangi selama dua hingga tiga menit untuk mengurangi respons stres dan menstabilkan detak jantung.

Pakar menekankan agar kecemasan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Kecemasan adalah respons manusia normal.

Mencoba menekannya justru dapat meningkatkannya, sementara menerima perasaan itu membuatnya tidak berlebihan.

Rutinitas harian juga penting. Tidur teratur, mengurangi penggunaan ponsel sebelum tidur, dan olahraga rutin dapat mendukung kesehatan mental.

Pengelolaan kecemasan jangka panjang bergantung pada kebiasaan yang lebih luas dan bantuan profesional bila diperlukan.

>>> Ji Young-jun, Kritikus Mi Instan Pertama di Korea

'Jika kecemasan mengganggu kehidupan sehari-hari dan disertai gejala fisik, orang harus segera mencari perawatan spesialis,' kata Lee.

alt under
E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
alt mid
📰 Update Terbaru