Amerika Serikat dan Iran berselisih pada Selasa (24/6) soal apakah Teheran telah menyetujui inspeksi PBB ke situs nuklirnya.
Perbedaan pendapat ini muncul saat Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu dengan mediator Pakistan dan tim teknis dari kedua negara terus berunding di Swiss.
>>> Pejabat AS Sebut Kebijakan Data Lokal Korea Jadi Hambatan AI
Inspeksi Nuklir Jadi Perdebatan
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kepada wartawan di Teheran bahwa inspektur PBB tidak dijadwalkan memeriksa situs nuklir yang dibom AS tahun lalu.
Pernyataan itu membantah komentar Wakil Presiden AS JD Vance sehari sebelumnya.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa jika Iran tidak menyetujui inspeksi, ia akan memutus perundingan dengan Teheran.
Namun ia menambahkan tidak ada terburu-buru untuk memulai inspeksi.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum menanggapi permintaan komentar terkait peran mereka.
IAEA telah keluar-masuk Iran sejak perang 12 hari Israel pada 2025, tetapi belum mendapatkan akses ke situs pengayaan yang dibom AS.
Iran menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai, meskipun memiliki uranium yang diperkaya tinggi yang bisa digunakan untuk bom atom, menurut IAEA.
AS dan Iran menyepakati kesepakatan pekan lalu yang meminta Teheran mengencerkan stok uranium yang diperkaya, dan memberikan waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan yang lebih luas.
Rencana Evakuasi Awak Kapal di Selat Hormuz
Rencana untuk mengevakuasi 11.000 awak kapal yang terdampar di Selat Hormuz dilakukan bekerja sama dengan Iran, Oman, negara-negara pesisir lainnya, AS, dan industri maritim.
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez mengatakan jaminan keselamatan telah diperoleh dan kondisi navigasi aman telah diverifikasi.