Korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat di Venezuela meningkat menjadi 589 orang, sementara 2.980 lainnya mengalami luka-luka.
Hal ini disampaikan oleh Presiden Pelaksana Delcy Rodríguez pada Jumat (27/6/2025) dini hari.
>>> Gelombang Panas Eropa Membebani Rumah Sakit, Acara Hiburan Dibatalkan
Rodríguez mengumumkan angka tersebut di hadapan pejabat pemerintah dan militer saat menyambut kedatangan tim penyelamat dari berbagai negara.
"Kami akan menyelamatkan orang-orang yang terjebak. Kami bekerja tanpa lelah untuk tugas ini," ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa negara bagian La Guaira menjadi wilayah yang paling parah terdampak gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang terjadi pada Rabu (25/6/2025) malam.
Wilayah tersebut kini telah dimiliterisasi saat tim penyelamat mencari korban selamat dan mendistribusikan makanan serta air.
Dampak dan Upaya Penyelamatan
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan hingga 6,76 juta orang di Venezuela terdampak gempa, sekitar 2 juta di antaranya berada di Caracas saja.
Loyce Pace, Direktur Regional Palang Merah Internasional untuk Amerika, mengatakan bahwa warga masih ketakutan untuk kembali ke rumah mereka.
Korban luka ditarik keluar dalam kondisi berlumuran debu dan darah, termasuk anak-anak.
Televisi nasional Venezuela menayangkan gambar dramatis penyelamatan, termasuk seorang wanita yang terjebak di bawah lempengan semen dengan hanya satu kaki telanjang yang menyembul sebelum tim penyelamat berhasil mengeluarkannya hidup-hidup.
Namun, tim pencarian pemerintah awalnya jarang terlihat di luar Caracas. Wilayah pesisir La Guaira, di utara ibu kota, mengalami kerusakan dan korban jiwa terberat.
Bandara utama negara yang berada di sana ditutup karena rusak, mempersulit upaya bantuan.
Kesedihan dan Harapan di Tengah Reruntuhan
Banyak warga Venezuela terkejut saat melihat bangunan yang hancur, furnitur bergelantungan di jendela, dan helikopter berputar-putar di atas kepala.
