Supergirl (2026) sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi terobosan dalam menampilkan superhero yang rapuh dan memiliki celah emosional.
Namun, potensi tersebut tersesat dalam eksekusi yang membingungkan.
Film ini bukan tontonan yang sepenuhnya mengecewakan, tetapi gagal meninggalkan kesan mendalam atau menyajikan ketegangan yang berarti.
Eksekusi kisah sepupu Superman ini justru terasa membosankan di tengah labirin plot yang gamang dan sajian visual yang terlalu pekat.
Performa Milly Alcock Jadi Satu-satunya Magnet
Satu-satunya daya tarik yang menahan film ini agar tidak jatuh bebas adalah performa luar biasa Milly Alcock sebagai Kara Zor-El.
Alcock dengan cerdas menyuntikkan gaya edgy yang berpadu dengan estetika punk rock dan kumuh.
Kara versinya tampil tidak sempurna: seorang pahlawan yang urakan, sering bangun kesiangan dalam kondisi mabuk, dan menyembunyikan trauma masa lalunya di balik kacamata hitam besar yang eksentrik.
Keputusan casting Alcock terasa solid berkat dukungan desain kostum mendetail serta tata produksi yang apik.
Naskah Lemah Jadi Masalah Utama
Masalah mendasar film ini berakar pada naskah perdana tulisan Ana Nogueira yang terasa sangat lemah.
Alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari depresi dan rasa duka, skripnya justru memperlakukan narasi sebagai wadah kosong untuk menumpuk efek visual.
Transformasi emosional Kara terasa asal tempel, bukan hasil perkembangan plot yang organik.
Tim kreatif lebih memilih fokus membuat film ini sangat punk rock, tetapi ironisnya berakhir seperti versi hambar perkawinan Guardians of the Galaxy dan Mad Max.
Perjalanan karakter Ruthye (Eve Ridley) justru konsisten menjadi penggerak utama narasi. Akibatnya, Kara terlihat asing dan berkeliaran tanpa arah dalam filmnya sendiri.
Perjalanan antargalaksi Kara hanya dua: menaklukkan Krem dan menyelamatkan Krypto. Dua hal itu gagal didalami secara emosional dalam durasi 108 menit.
Isu sederhana digulirkan dalam plot yang tidak cukup menarik, membuat adegan aksi terasa datar dan hambar.
Kelemahan itu ditambah dialog kaku yang ditulis berlebihan, lengkap dengan pengulangan kalimat menjengkelkan tanpa urgensi jelas.
Nuansa menyenangkan dan percikan magis yang dibangun James Gunn lewat Superman (2025) sama sekali tidak membekas di sini.
Pemeran Pendukung Tak Menolong
Kelesuan juga merembet ke jajaran pemeran pendukung. Jason Momoa sebagai Lobo terasa terlalu aman dan mudah ditebak.
Matthias Schoenaerts sebagai antagonis utama Krem gagal membangun koneksi kuat dengan penonton.
Padahal, kelompok penjahat The Brigands digambarkan sebagai klan kejam yang melakukan penculikan dan perdagangan anak perempuan. Konsep itu berpotensi memperkuat konflik, tetapi hanya jadi pemanis.
Adegan Supergirl dengan the brides yang berpotensi menampilkan solidaritas perempuan juga hanya diolah di permukaan.
Kegagalan tersebut disempurnakan penampilan kaku Eve Ridley yang membuat perkembangan emosional karakternya terasa hambar.
Kesimpulan: Gagal Terbang Tinggi
Secara keseluruhan, formula yang ditawarkan Supergirl tak ada yang baru, termasuk efek visualnya, dibandingkan film sejenis dan terasa melelahkan.
Adegan aksi terasa hambar hingga tak meninggalkan bekas saat keluar studio.
Pada akhirnya, Supergirl gagal terbang tinggi bukan karena kekurangan modal atau efek visual buruk, melainkan akibat naskah rapuh dan arah kreatif yang gamang.
Karakter sepotensial Kara Zor-El jelas pantas mendapatkan panggung yang lebih megah dan narasi yang lebih bertenaga.