Supergirl (2026) sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi terobosan dalam menampilkan superhero yang rapuh dan memiliki celah emosional.
Namun, potensi tersebut tersesat dalam eksekusi yang membingungkan.
>>> Guns N' Roses Akan Konser di Stadion Madya Jakarta 21 November
Film ini bukan tontonan yang sepenuhnya mengecewakan, tetapi gagal meninggalkan kesan mendalam atau menyajikan ketegangan yang berarti.
Eksekusi kisah sepupu Superman ini justru terasa membosankan di tengah labirin plot yang gamang dan sajian visual yang terlalu pekat.
Performa Milly Alcock Jadi Satu-satunya Magnet
Satu-satunya daya tarik yang menahan film ini agar tidak jatuh bebas adalah performa luar biasa Milly Alcock sebagai Kara Zor-El.
Alcock dengan cerdas menyuntikkan gaya edgy yang berpadu dengan estetika punk rock dan kumuh.
Kara versinya tampil tidak sempurna: seorang pahlawan yang urakan, sering bangun kesiangan dalam kondisi mabuk, dan menyembunyikan trauma masa lalunya di balik kacamata hitam besar yang eksentrik.
Keputusan casting Alcock terasa solid berkat dukungan desain kostum mendetail serta tata produksi yang apik.
Naskah Lemah Jadi Masalah Utama
Masalah mendasar film ini berakar pada naskah perdana tulisan Ana Nogueira yang terasa sangat lemah.
Alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari depresi dan rasa duka, skripnya justru memperlakukan narasi sebagai wadah kosong untuk menumpuk efek visual.
Transformasi emosional Kara terasa asal tempel, bukan hasil perkembangan plot yang organik.
Tim kreatif lebih memilih fokus membuat film ini sangat punk rock, tetapi ironisnya berakhir seperti versi hambar perkawinan Guardians of the Galaxy dan Mad Max.
Perjalanan karakter Ruthye (Eve Ridley) justru konsisten menjadi penggerak utama narasi. Akibatnya, Kara terlihat asing dan berkeliaran tanpa arah dalam filmnya sendiri.
