AS dan Iran menyetujui kesepakatan sementara awal bulan ini yang mewajibkan Teheran mengencerkan stok uranium yang diperkaya.
Kesepakatan itu juga menghapus sanksi minyak AS terhadap Iran, menyerukan lalu lintas bebas melalui Selat Hormuz, dan memberi masing-masing pihak waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan yang lebih luas.
Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, seperlima minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz.
Serangan dan ancaman Iran menghentikan kapal kargo dan tanker melintasi selat tersebut, menciptakan krisis energi global.
Selat itu telah lama dianggap sebagai jalur air internasional meskipun berada di perairan teritorial Iran dan Oman.
Kedua pihak saling melancarkan serangan di tengah upaya pekan lalu untuk membuka perairan teritorial Oman di selat tersebut bagi lalu lintas kapal masuk dan keluar dari Teluk Persia.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang secara resmi dapat terganggu.
Iran dua kali menyerang kapal di selat tersebut, termasuk sebuah tanker berisi minyak mentah Qatar, dan mendapat serangan balasan udara AS.
>>> Yadea Tebar Promo Kendaraan Listrik di PRJ 2026, Diskon dan Benefit Capai Rp10 Juta
Iran juga meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Bahrain dan Kuwait pada Minggu.