Ray Seol, seorang profesor jazz di Berklee College of Music, akhirnya angkat bicara mengenai kehilangan ibunya yang bunuh diri pada tahun 2006.
Saat itu, Seol adalah mahasiswa jazz berusia 31 tahun di New York. Ia menerima telepon internasional yang memberitahukan bahwa ibunya telah mengakhiri hidupnya.
"Saya sekarang berusia 51 tahun, sama seperti usia ibu saya saat meninggal," ujarnya pelan.
Selama satu dekade, Seol bergulat dengan kesedihan yang tak kunjung reda. Keluarganya memilih bungkam tentang peristiwa itu.
"Begitu hal itu terjadi, tidak ada yang membicarakannya lagi," katanya.
Ayahnya pun mengalami nasib serupa: kehilangan ibu karena bunuh diri saat masih bayi. "Dia kehilangan ibu, lalu istrinya, dengan cara yang sama.
Suatu kali dia bertanya apakah ini kutukan keluarga," kenang Seol.
Mencari Suara Ibunya
Bertahun-tahun kemudian, Seol menyadari bahwa ia belum pernah benar-benar memahami apa yang mendorong ibunya ke titik itu.
Beasiswa Fulbright memberinya kesempatan menelusuri kembali kehidupan ibunya. Pada musim panas 2025, ia mengunjungi kampung halaman orang tuanya di Seocheon, Chungcheong Selatan, dan Gwangju.
Di sana, ia menemukan kenyataan pahit: ibunya tidak pernah bisa membaca atau menulis.
"Saya selalu mengira dia hanya pemalu. Saya anak yang bodoh.
Bagaimana mungkin saya tidak tahu?" ujar Seol.
Seperti banyak anak perempuan pertama di pedesaan Korea pada 1950-an dan 1960-an, ibunya tidak pernah disekolahkan. Ia diharapkan mengurus adik-adiknya dan menanggung beban rumah tangga.
"Dia tidak pernah memiliki akses ke bahasa yang memungkinkan seseorang memahami keberadaannya sendiri, mengekspresikannya, dan didengar orang lain," kata Seol.
Penemuan itu juga mengubah cara Seol memandang dirinya sendiri. Sebagai imigran generasi pertama di AS, ia sering merasa terhapuskan karena berbicara dalam bahasa yang bukan miliknya.
Dunia jazz pun menjadi hambatan lain. Sebagai musisi Asia, ia kerap menghadapi stereotip bahwa orang Asia tidak bisa "swing".
Dengan cara berbeda, ibu dan anak sama-sama mengalami apa artinya hidup tanpa kata-kata.
'The Prison of Language'
Apa yang dimulai sebagai upaya memahami kisah ibunya berubah menjadi bentuk duka baru, sebuah ritual terakhir untuk menghormatinya.
Cerita yang tak pernah bisa ia tanyakan langsung kepada ibunya itu ia tuangkan dalam musik. Lahirlah "The Prison of Language".
Karya yang disebut Seol sebagai "drama musikal" ini merupakan bagian otobiografi, bagian memorial kolektif.
Karya tersebut mengangkat kehilangan ibunya sambil menjalin 150 kata kunci tematik dari wawancara dengan 14 penyintas kehilangan akibat bunuh diri di Korea.
Satu sentimen yang paling membekas: "Semua orang mengatakan bahwa orang itu masih ada di suatu tempat — tidak sepenuhnya pergi, tetapi di antara hidup dan mati.
Saya tahu persis perasaan itu. Seolah ibu saya adalah seseorang yang sudah lama tidak saya hubungi," ujarnya.
Perasaan liminal itu menjadi fondasi emosional pertunjukan. Mengacu pada ritual shamanik Korea "gut", Seol menggabungkan bebop jazz dengan "pansori" (penceritaan musik tradisional).
"Ini bukan fusi demi fusi. Ini tentang menyatukan dua tradisi pada level spiritual," katanya.
Bagi Seol, karya ini juga merupakan respons terhadap cara bunuh diri dibicarakan.
Terlalu sering, argumennya, percakapan dimulai dan berakhir dengan diagnosis atau patologi, meninggalkan sedikit ruang bagi kisah hidup di balik penderitaan seseorang.
Rasa malu dan diam, pada gilirannya, membuat penyintas enggan berbicara terbuka tentang kehilangan mereka. Ia percaya seni dapat menciptakan ruang terbuka yang berbeda.
Alih-alih membuat trauma ulang, ia ingin pertunjukan itu menawarkan ruang untuk refleksi, koneksi, dan bahkan momen kegembiraan.
Pada intinya, Seol berharap produksi ini meninggalkan pesan sederhana: "Hidup memiliki nilai. Nilai itu berbeda bagi setiap orang, dan menemukannya butuh waktu.
Tapi Anda harus tetap hidup untuk menemukannya."
Produksi skala penuh "The Prison of Language" dijadwalkan tayang perdana tahun depan di Seoul sebelum dibawa ke Boston.