Komando militer gabungan Iran pada Kamis memperingatkan bahwa semua kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz harus menggunakan rute yang telah disetujui atau akan menghadapi 'respons keras'.
Peringatan ini kembali memicu ketegangan di jalur air yang sangat penting bagi pasokan energi internasional.
>>> Durian Setara Semangkuk Nasi? Ini Fakta Kalori, Dampak Gula Darah, dan Cara Aman Konsumsi
Pernyataan dari komando militer Khatam al-Anbiya, yang dilaporkan oleh televisi negara Iran, muncul setelah para diplomat AS dan Iran bertemu dengan mediator di Qatar pada Rabu.
Belum jelas apa yang memicu ancaman tersebut.
Namun, Komando Pusat militer AS sebelumnya mengeluarkan pernyataan tentang pertemuan dengan pejabat negara-negara Timur Tengah di Bahrain.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa para pemimpin 'menegaskan komitmen bersama mereka terhadap kebebasan arus perdagangan melalui Selat Hormuz'.
Pernyataan Iran tampaknya merespons hal tersebut.
Iran saat ini bersiap untuk pemakaman Pemimpin Tertinggi mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang akan dimulai akhir pekan ini.
Khamenei tewas pada saat-saat pertama perang pada Februari lalu.
'Setiap kegagalan untuk mematuhi, penyimpangan dari rute yang ditentukan, atau pengabaian terhadap protokol navigasi Republik Islam Iran di Selat Hormuz akan dihadapi dengan respons langsung dan keras dari angkatan bersenjata, yang membahayakan keamanan kapal-kapal yang melanggar,' demikian bunyi pernyataan Iran.
>>> Purbaya: Dana Investasi di PFII Bisa Biayai Proyek Danantara
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa kehadiran terus-menerus jet tempur AS di atas selat tersebut 'menyebabkan ketidakamanan di jalur air ini dan mengancam keamanan regional'.
'Setiap upaya Amerika Serikat untuk campur tangan dalam masalah keamanan atau tindakan disruptif di Selat Hormuz akan dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional Iran dan akan dihadapi dengan reaksi cepat dan tegas,' tambah peringatan Iran.