unique visitors counter
⌂ Beranda News Kemacetan Jakarta Masih Tinggi, Pengamat Nilai Pengguna Transportasi Massal Belum Ideal

Kemacetan Jakarta Masih Tinggi, Pengamat Nilai Pengguna Transportasi Massal Belum Ideal

Kemacetan Jakarta Masih Tinggi, Pengamat Nilai Pengguna Transportasi Massal Belum Ideal
Ilustrasi: Kemacetan Jakarta Masih Tinggi, Pengamat Nilai Pengguna Transportasi Massal Belum Ideal
A A Ukuran Teks16px

Pengamat transportasi Deddy Herlambang mempertanyakan data pengguna transportasi umum di Jakarta yang disebut mencapai 27 hingga 28 persen.

Menurutnya, angka tersebut kemungkinan merupakan gabungan seluruh pengguna angkutan umum, termasuk taksi dan ojek online.

>>> Bea Cukai dan BNN Gagalkan Penyelundupan 3,37 Ton Ganja dari Thailand

Hal itu disampaikan Deddy menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menyebut konektivitas transportasi publik telah mencapai 93 persen, namun pengguna transportasi umum masih di kisaran 27-28 persen.

"Sebenernya bisa, tapi jumlahnya kurang. Masih kurang banyak.

Apalagi yang diinfokan Pak Gubernur itu 28 persen pengguna transportasi umum. Itu catatan kita keliru.

in2

Pengguna transportasi umum yang dihitung itu termasuk taksi dan ojek online. Padahal kalau hitungan pengguna transportasi umum massal itu hanya bus, Transjakarta, KRL, MRT, dan LRT.

Kalau dihitung yang massal, menurut saya kurang lebih hanya sekitar 10 persen," ujar Deddy saat dihubungi Poskota, Sabtu.

Deddy menjelaskan, taksi dan ojek online memang termasuk transportasi umum, tetapi tidak bisa dikategorikan sebagai transportasi massal karena tetap menggunakan kendaraan dengan kapasitas terbatas dan berkontribusi terhadap kemacetan.

"Kalau taksi dan ojol walaupun itu angkutan umum, tetapi tetap sifatnya privat. Tetap membuat macet.

>>> Cara Daftar Magang Nasional 2026, Batch Baru Resmi Dibuka Bulan Ini

Satu mobil satu penumpang, berbeda dengan satu bus besar yang bisa mengangkut 100 orang. Itu baru angkutan massal," kata Deddy.

Ia menambahkan, pergerakan masyarakat di Jakarta setiap hari diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta perjalanan.

Sementara jumlah pengguna transportasi massal saat ini masih jauh dari angka ideal yang dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan secara signifikan.

"Pergerakan setiap hari di DKI itu lebih dari 10 juta. Kalau kita hitung KRL sekitar satu juta penumpang, Transjakarta bisa 1,5 juta penumpang.

MRT dan LRT masih sekitar ratusan ribu. Kalau ditotal semua kurang lebih sekitar 2,7 juta pengguna transportasi massal.

Padahal idealnya minimal 50 persen dari total pergerakan masyarakat menggunakan transportasi umum," ujarnya.

>>> Iran Mulai Rangkaian Upacara Pemakaman Khamenei pada 4 Juli 2026

Deddy menilai Jakarta masih membutuhkan tambahan kapasitas angkutan massal hingga sekitar 2,3 juta sampai 2,5 juta penumpang per hari agar target pengurangan kemacetan dapat tercapai.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru
stikibot