Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui banyak perusahaan yang telah mempersiapkan penawaran umum perdana saham (IPO) memilih menunda aksi korporasi tersebut.
Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang dinilai kurang mendukung.
>>> YPOK Depok Kirim Atlet Karate Terbaik ke Nara Cup 2026
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan bahwa proses menuju IPO membutuhkan waktu persiapan yang panjang, bahkan bisa mencapai satu hingga dua tahun.
Namun, banyak calon emiten yang akhirnya mengurungkan niat saat melihat kondisi pasar tidak sesuai bayangan.
"Yang menarik adalah banyak sekali saya ketemu perusahaan-perusahaan ketika pengen IPO, tapi melihat kondisi market.
Sementara IPO itu kan persiapannya satu sampai dua tahun sebelum hari H, sehingga banyak sekali ketika kondisinya tidak sesuai dengan bayangan mereka, mereka nunda, yang akhirnya batal," kata Saidu di Gedung BEI Jakarta pada Kamis (9/7/2026).
>>> Samsung Galaxy S26 Plus: Flagship Praktis untuk Aktivitas Sehari-hari
IPO sebagai Strategi Jangka Panjang
Menurut Saidu, perusahaan seharusnya memandang IPO sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengembangkan usaha.
Keputusan untuk melantai di bursa tidak semata-mata bergantung pada kondisi pasar saat penawaran saham dilakukan.
"Harusnya memandang IPO sebagai gerbang awal untuk mereka bertransformasi menjadi perusahaan besar. Tinggal kalau market-nya bagus ya tinggal berstrategi.
>>> OJK Sita Aset dan Tetapkan Tersangka Kasus Asuransi Jiwa Prolife
Tapi jangan lantas ditunda, karena cost-nya sudah keluar," ujarnya.

