Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Minggu dini hari, menyusul serangan Iran terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz yang menyebabkan kapal kontainer terbakar dan awaknya meninggalkan kapal.
Iran dilaporkan membalas dengan menargetkan Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
>>> BNI Dorong Transaksi Digital UMKM Batik Lewat Promo di Puspa Nuswantara 2026
Selat Hormuz menjadi titik kunci dalam negosiasi lebih lanjut antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari.
Sekitar seperlima dari seluruh perdagangan minyak dan gas bumi melewati selat tersebut sebelum perang.
Cengkeraman Iran di selat itu selama perang menyebabkan krisis energi global, meskipun harga minyak telah turun drastis dari puncak masa perang sebesar $120 per barel.
Serangan AS dan Balasan Iran
Komando Pusat Militer AS mengatakan pihaknya menghantam sekitar 140 target dalam serangan itu, jauh lebih banyak dari dua putaran sebelumnya.
Sasaran meliputi lokasi peluncuran rudal dan drone, gudang amunisi, serta peralatan komunikasi.
Serangan tersebut "menurunkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal dagang yang bebas melintasi selat itu," kata pernyataan Komando Pusat.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menulis di media sosial: "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar."
Uni Emirat Arab memperingatkan warganya pada Minggu tentang serangan rudal dan drone yang akan datang, sementara ledakan terdengar di Qatar.
Militer Qatar mengatakan mereka mencegat tembakan Iran. Sementara itu, peringatan rudal berbunyi di Bahrain, dan militer Kuwait mengatakan mereka mencegat tembakan yang masuk.
Belum jelas lokasi mana yang diserang di UEA, yang sejauh ini belum menjadi sasaran dalam putaran serangan terbaru Iran.
