Pemberian mandat kepada BPI Danantara sebagai eksekutor utama proyek ekspor listrik hijau berbasis EBT ke Singapura dinilai perlu memberikan ruang bagi pihak swasta.
Hal itu disampaikan Associate Principal Energy Shift Indonesia (ESI), Ahmad Zuhdi, Rabu (15/7/2026).
"Jika Danantara memegang peran yang terlalu dominan, ada risiko swasta hanya menjadi pelaksana proyek, bukan investor yang ikut berbagi risiko dan pendanaan," ujar Zuhdi.
Menurutnya, keterlibatan aktif swasta sangat krusial mengingat proyek ini ditargetkan mencapai kapasitas 3,4 GW.
Angka tersebut membutuhkan modal yang sangat besar, sehingga akan lebih sehat bagi ruang fiskal dan iklim investasi jika swasta dilibatkan sebagai mitra strategis sejak awal.
"Pemerintah juga harus membuka peluang kerja sama bisnis baik antara BUMN maupun swasta, dan perlu diperhatikan struktur insentifnya kalau mau menjaring banyak peminat," kata dia.