Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan pada Rabu (22/7) bahwa Washington masih bersedia bernegosiasi untuk mengakhiri krisis dengan Iran.
Namun, ia menilai Teheran tidak serius dalam perundingan.
Pernyataan itu disampaikan Rubio dalam pertemuan para menteri luar negeri Asia Tenggara di Manila. Ia menegaskan bahwa AS selalu berkomitmen pada diplomasi.
"Masalahnya saat ini adalah mereka tidak serius dalam perundingan. Jika mereka serius, kami serius.
Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan sekutu," ujar Rubio.
Konflik Mengancam Jalur Energi Global
Konflik yang meluas telah mengganggu dua titik rawan energi paling kritis di dunia.
Sehari sebelumnya, tiga kapal tanker minyak mentah Saudi yang menuju Asia berbalik arah di Laut Merah.
Pembalikan arah itu diduga sebagai respons terhadap ancaman dari kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran. Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7).
Dengan Iran yang sudah mengancam pengiriman melalui Selat Hormuz, Laut Merah menjadi jalur alternatif utama bagi jutaan barel minyak Saudi per hari.
Upaya Diplomasi Masih Berlangsung
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal dari mediator untuk gencatan senjata 10 hari.
Proposal itu bertujuan menyelamatkan perjanjian gencatan senjata sementara yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni.
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni telah mengunjungi mediator Pakistan dan meminta Islamabad untuk melanjutkan upayanya.
Rubio menekankan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan menguasai Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa hal itu akan menciptakan preseden berbahaya bagi dunia, termasuk negara-negara Asia Tenggara.
"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur air internasional, itu akan terulang di kawasan lain," kata Rubio.
Sementara itu, militer AS terus membombardir target-target di Iran selama 11 malam berturut-turut pada Selasa (21/7). Warga Teheran melaporkan mendengar ledakan pada Rabu dini hari.
Ledakan juga dilaporkan di kota pesisir tenggara Chabahar dan Konarak, serta dua ledakan terdengar di Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Iran sebelumnya menargetkan instalasi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania, serta sebuah kapal tanker di Selat Hormuz.
Iran mengaku telah menyerang infrastruktur milik Amazon di Bahrain.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa 18 personel militer AS tewas dalam perang sejauh ini, termasuk empat orang dalam serangan Iran di pangkalan militer AS di Yordania dan Irak.
Harga minyak naik lebih lanjut dalam perdagangan Asia pada Rabu setelah naik lebih dari 2 persen pada Selasa.
Brent bertahan di atas 91 dolar AS per barel dan bensin AS kembali di atas 4 dolar AS per galon.
Dalam surat kepada pengirim barang, Houthi pada Selasa mengancam akan menyerang kapal yang memuat atau membongkar minyak Saudi.
Trump mengatakan Houthi belum menutup Bab el-Mandeb dan mengancam akan bertindak jika mereka melakukannya.
Tiga kapal tanker minyak mentah Saudi untuk China dan India berbalik arah di Laut Merah pada Selasa, menuju Terusan Suez daripada menghadapi pesisir Yaman.
Selama perang, Arab Saudi sebagian lolos dari gangguan pengiriman dengan memompa minyak ke Yanbu di Laut Merah.
Namun, penutupan total jalur alternatif oleh Houthi dapat mengurangi pasokan minyak global.
Trump kembali mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz "segera", yang menurutnya pada Juni 2025 telah "dihancurkan total" setelah dibom AS.
Iran berjanji akan membalas.
Seorang pejabat kementerian kesehatan Iran mengatakan 50 warga sipil tewas dan 500 terluka dalam serangan AS baru-baru ini.