Teheran mengumumkan pada Kamis bahwa mereka telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan ini merupakan balasan atas serangan rudal di sebuah pernikahan yang dituduhkan Iran kepada Washington.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa serangan tersebut sedang diselidiki. Namun, ia meragukan laporan dari media Iran mengenai insiden pernikahan itu.
Konflik baru ini dimulai dengan serangan udara AS pada hari Minggu, memperdalam kebuntuan dalam perang enam bulan terakhir.
Iran masih menguasai Selat Hormuz yang strategis, sementara Washington terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Serangan Balasan Iran
Tentara Kuwait mengonfirmasi pada Kamis bahwa mereka berhasil mencegat rudal dan drone dari Iran. Iran melaporkan bahwa mereka menghantam Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait.
Kuwait menyebut serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Iran juga mengaku menyerang Pangkalan Udara Al Minhad di UEA, tetapi negara Teluk itu tidak melaporkan adanya serangan.
Serangan ini terjadi setelah Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa serangan rudal di kota pesisir Kuhestak pada Selasa malam menewaskan empat orang, termasuk seorang anak, dan melukai lebih dari 50 lainnya.
Reaksi dan Investigasi
Vance mengatakan bahwa Washington sedang menyelidiki dugaan serangan tersebut, tetapi ia meragukan laporan dari Iran. "Saya tahu kami sedang menyelidiki," katanya dalam briefing di Gedung Putih.
Kepala Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, bersumpah akan membalas dendam atas para korban serangan pernikahan itu.
"Darah murni para syuhada yang tertindas ini tidak akan dibiarkan begitu saja," ujarnya.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Tim Hawkins, menegaskan bahwa militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti Garda Revolusi Iran (IRGC).