Warga Iran dan negara-negara Arab tetangga kembali diliputi ketakutan akan pecahnya perang besar. Ini menyusul pertukaran tembakan terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli.
Pasukan AS menghantam wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di sejumlah negara di kawasan.
>>> Pria Rusak Mobil Warga di Jagakarsa Viral, Polisi Kantongi Identitas Pelaku
AS mengancam akan melancarkan serangan yang lebih menghancurkan.
Iran menuduh Washington menyerang pesta pernikahan, menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya.
Menteri Kesehatan Iran kemudian mengatakan total 18 orang tewas dan 108 luka-luka dalam gelombang serangan AS terbaru.
Saham Asia dan Eropa merosot setelah serangan udara tersebut, meski Wall Street dibuka lebih tinggi karena investor fokus pada perkembangan kecerdasan buatan.
Harga minyak sedikit menguat dalam sesi yang volatil, setelah sempat mencapai level tertinggi sejak Juli.
Serangan Balasan Iran
Militer AS mengatakan pihaknya menyerang pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, kemampuan penanaman ranjau, dan situs komunikasi pada Selasa.
Iran melaporkan adanya serangan di beberapa target dekat Selat Hormuz.
Seorang pekerja kota di Sirik County, Mahmoud (38), menggambarkan serangan itu seperti 'akhir dunia'.
Iran merespons dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai aset AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Irak.
Komando militer Iran menyatakan tujuannya kini adalah mengusir pasukan AS dari jaringan pangkalan militer yang telah mereka tempati selama puluhan tahun di Timur Tengah.
Mereka mengancam akan memberikan respons yang lebih berat dan meluas.
Iran mengklaim telah menewaskan pasukan AS di Yordania dan di sebuah pangkalan di Irak utara.
Namun, pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada korban jiwa berdasarkan penilaian awal.
