Pasar Tradisional Pondok Labu di Cilandak, Jakarta Selatan, kini sepi pengunjung. Kondisi ini membuat pendapatan para pedagang merosot tajam hingga 70-80 persen.
Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha yang gulung tikar dan menjual kios miliknya.
Salah satunya adalah Aung, pedagang kaus kaki dan aksesori yang telah puluhan tahun berjualan di pasar tersebut.
Aung mengaku dampak sepi pembeli saat ini jauh lebih parah daripada masa awal pandemi Covid-19. "Masih mending saat Covid awal-awalnya pembeli masih ada.
Setelah Covid berjalan beberapa tahun sampai saat ini bertambah parah sepinya kebangetan," katanya, Kamis (3/8/2026).
Kondisi tersebut memaksa Aung menjual kios ukuran 2x2 meter di lantai basement seharga Rp30 juta. Ia tidak sanggup lagi membayar Biaya Pengelolaan Pasar (BPP).
Kios itu dibeli Aung dengan skema cicilan Rp500 ribu selama lima tahun.
Kini, ayah tiga anak itu memilih berjualan sebagai pedagang kaki lima di area depan bangunan pasar.
Ia berharap pengelola Pasar Pondok Labu membuat terobosan agar pasar kembali ramai di tengah persaingan dengan toko daring.
Pedagang Desak Pengelola Buat Inovasi
Keluhan serupa disampaikan Yanti, pemilik Toko Mega yang menjual pakaian.
Sepinya lorong pasar membuat pendapatannya merosot hingga 70 persen, sehingga ia kesulitan menutup BPP sebesar Rp520 ribu per bulan.
"Bagi usaha pakaian jika sepi pengunjung sudah jelas tidak akan mampu bayar BPP.
Lain jika usaha sembako pasti masih ketutup sehingga jika tidak ada upaya maka akan terancam bangkrut," tuturnya.
