Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan.
Kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi sentimen utama.
>>> Banjir dan Hujan Deras Landa China Selatan Pasca Topan Noul
Pada akhir pekan lalu, IHSG ditutup melemah 1,88% ke level 6.196,43. Sebelumnya, indeks sempat menembus level 6.400 secara intraday pada pekan yang sama.
Seluruh sektor saham terkoreksi, dengan pelemahan terdalam dialami sektor cyclical yang turun 3,04%. Aksi ambil untung mendorong pelemahan di semua sektor.
Kekhawatiran Inflasi Global
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi memicu kembali inflasi global jika bertahan di level tinggi.
Konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan dikhawatirkan membuat harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama.
>>> Arti Nama Zeia Zartasha Janna, Putri Pertama Fiki Naki dan Tinandrose
Selain itu, sentimen juga dibebani kebijakan Amerika Serikat yang mengenakan tambahan tarif impor 10% terhadap produk asal Indonesia.
Hal ini menambah tekanan bagi IHSG.
Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa konflik di Timur Tengah jika berlarut-larut akan berdampak pada meningkatnya laju inflasi global.
>>> Troy Pantouw Meninggal Dunia di Rusun ASN Nusantara, Ini Sosok Jubir Otorita IKN
Pasar pun mencermati perkembangan situasi geopolitik tersebut.
