Sedikitnya 18 migran tewas saat mencoba mencapai wilayah Spanyol, Ceuta, setelah ribuan orang menerobos perbatasan dengan Maroko dan membanjiri daerah tersebut.
Krisis perbatasan ini memuncak pada Kamis dan berlanjut hingga Jumat, menjelang kunjungan Perdana Menteri Spanyol ke eksklave tersebut.
>>> Jadwal Ganjil Genap Puncak Bogor 1 Agustus 2026: Aturan dan Titik Penyekatan
Pasukan keamanan bentrok dengan migran di sisi perbatasan Maroko.
Rekaman langsung menunjukkan ratusan migran berkumpul di bukit yang menghadap Ceuta, lalu dibubarkan dengan gas air mata oleh pasukan Maroko.
Sementara itu, kelompok besar migran terlihat berjalan kembali dari Ceuta menuju Maroko untuk pulang.
Korban tewas dalam kekacauan
Rachid Sbihi, yang memimpin asosiasi pekerja lokal yang mewakili petugas Civil Guard, menyebut situasi ini sebagai "krisis kemanusiaan yang serius."
Dia mengatakan ribuan migran, termasuk anak-anak tanpa pendamping, dibiarkan tidur di taman dan trotoar, sementara yang lain berkeliaran di jalanan tanpa tujuan.
Dari 18 orang yang tewas, banyak yang tenggelam, tetapi beberapa juga tewas dalam desak-desakan saat melintasi pagar pemecah gelombang di Pantai Tarajal, pantai perkotaan dekat pos pemeriksaan perbatasan dengan Maroko.
Ahmed Karim, pria Maroko berusia 33 tahun, mengatakan dia menyeberang ke Ceuta karena kurangnya pekerjaan di negaranya.
"Banyak orang ingin pergi ke Eropa, Amerika, tetapi mereka tidak memiliki kesempatan," kata Karim.
Pada Jumat pagi, perairan dekat pagar perbatasan dipenuhi pelampung, sepatu, dan barang-barang lain yang ditinggalkan.
Polisi Maroko mengerahkan personel tambahan, menggunakan meriam air, dan melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk mencegah migran menyeberang ke Ceuta, menurut kelompok hak asasi di Maroko.
"Meskipun kehadiran polisi yang besar, orang-orang menyeberang melalui jalur air, sementara perbatasan darat tetap ditutup," kata Achraf Maimouni, aktivis hak asasi manusia di Fnideq, kota Maroko yang berbatasan dengan Ceuta.

