Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai bahwa hilirisasi batu bara menjadi metanol dan gas sintetis (syngas) memiliki nilai keekonomian serta fleksibilitas pasar yang lebih tinggi dibandingkan dimethyl ether (DME).
Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy mengatakan bahwa pengembangan gas sintesis dan metanol dari gasifikasi batu bara jauh lebih rasional daripada DME saat ini.
>>> Kebakaran Hutan Yunani Mendekati Athena, Warga Dievakuasi
Alasannya, rantai pasok industri turunan dari metanol dan syngas sudah terbentuk, sehingga lebih mudah diserap pasar.
Keunggulan Metanol dan Syngas
Menurut Sudirman, produk metanol dan gas sintesis lebih unggul karena ekosistem industrinya yang sudah mapan dan kebutuhan pasar domestik yang sangat tinggi.
>>> Gelombang Panas Ekstrem Mengancam Pasokan Listrik Eropa
Efisiensi dan kepastian penyerapan offtaker menjadi kunci utama dalam menentukan keberhasilan proyek hilirisasi batu bara di Indonesia.
Dia menambahkan bahwa DME membutuhkan konversi infrastruktur penyaluran yang tidak murah.
>>> Tanker LNG Qatar Kena Serang Lagi di Selat Hormuz
Sebaliknya, metanol langsung terserap oleh pasar domestik, misalnya sebagai bahan baku industri petrokimia hingga pembuatan biodiesel.
