Pemerintah Thailand mengambil langkah tegas dengan menangguhkan program yang memungkinkan polisi dan pejabat daerah membeli senjata api dengan harga diskon.
Kebijakan ini diumumkan setelah insiden penembakan di sebuah sekolah yang menewaskan delapan orang.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan langkah tersebut setelah seorang pelajar berusia 14 tahun menembak mati kakek-neneknya di rumah pada Jumat.
Pelaku kemudian menewaskan enam orang di sebuah sekolah di utara Bangkok sebelum mengakhiri hidupnya.
Penangguhan Program dan Penghentian Izin Baru
Kabinet menyetujui penangguhan segera program yang disebut program senjata kesejahteraan.
Selain itu, penerbitan izin baru untuk pembelian senjata juga dihentikan, seperti disampaikan juru bicara pemerintah Rachada Dhnadirek pada Selasa.
Otoritas akan meninjau izin pembelian senjata yang telah diterbitkan tetapi belum digunakan dalam 30 hari ke depan.
Mereka yang telah membeli senjata api namun belum memiliki izin kepemilikan juga diberi waktu 30 hari untuk memenuhinya atau menghadapi tuntutan hukum.