Upaya pencarian korban gempa bumi di Kolombia memasuki fase akhir pada Rabu (13/8/2026).
Tim penyelamat masih mencari tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan bangunan sebelum periode kritis 72 jam berakhir.
Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang Kolombia barat pada 10 Agustus lalu telah menewaskan 265 orang.
Lebih dari 3.500 orang terluka dan hampir 500 orang dilaporkan hilang.
Di kota Pereira, tim fokus pada sebuah toko roti yang runtuh. Mereka menduga seorang pedagang kaki lima yang terjebak sejak gempa masih hidup di bawah puing-puing.
Dengan menggunakan alat pendeteksi getaran, tim penyelamat mendeteksi kemungkinan tanda-tanda kehidupan dari Pablo Loaiza. Kerabatnya yang cemas berkumpul di dekat lokasi reruntuhan.
"Mereka bilang itu mungkin dia," kata Sara Loaiza (16), keponakannya. "Hatiku seperti mau meledak," ujarnya sambil menangis.
Kerabat mengatakan pria yang terjebak itu tampak merespons ketika penyelamat memintanya mengetuk dua kali, lalu tiga kali dari bawah reruntuhan.
Hal itu disambut tepuk tangan orang-orang di lokasi.
Tim penyelamat mendekati 72 jam sejak gempa, periode ketika korban selamat paling mungkin ditemukan hidup di bawah bangunan runtuh.
"Kami memasuki fase akhir," kata Wali Kota Cali, Alejandro Eder, Rabu. "Itu tidak berarti tidak akan ada yang selamat setelahnya, tapi akan lebih sulit."
Di Cali dan Pereira, tim darurat bersiap bekerja malam ketiga dengan tangan kosong, derek, dan anjing pelacak. Mereka berhenti sejenak untuk mendengarkan tanda-tanda kehidupan.
"Setiap setengah jam kami meminta semua orang diam untuk melihat apakah kami bisa menemukan orang hidup," kata relawan penyelamat Johana Sanchez kepada AFP.
"Sejauh ini, tiga orang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dan tiga meninggal."
Presiden Nyatakan Darurat Ekonomi
Presiden Kolombia yang baru dilantik telah menyatakan bencana ini sebagai "darurat ekonomi" dan mengumumkan tiga hari berkabung nasional.
"Kami akan melakukan apa yang diperlukan," kata Abelardo de la Espriella dalam pernyataannya. Ia berjanji untuk "bangkit kembali sebagai negara dan sebagai masyarakat."
Menurut data resmi, lebih dari 11.000 rumah hancur dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Banyak yang sudah menghabiskan malam berturut-turut di luar rumah, baik karena rumah rusak atau takut akan gempa susulan.
Di kota pegunungan El Cairo, warga berkumpul di dapur umum pada Selasa. Listrik masih padam dan banyak yang enggan kembali ke rumah.
"Orang-orang tidak mau masuk ke rumah, tidak mau tidur, tidak tahu harus berbuat apa," kata warga Adriana Gonzalez kepada AFP.
Di Roldanillo, Yuliana Mendez memilah-milah puing-puing toko produk kecantikan tempatnya bekerja. "Ini seperti memulai dari nol," katanya.
Di lingkungan Providencia, Pereira, warga mengangkut perabotan dan barang-barang rumah tangga dari bangunan yang rusak. Pengacara Ana Paulina Crosthwaite termasuk salah satunya.
"Kami dalam keadaan syok," katanya kepada AFP. "Kami tidak siap memberi tahu anak-anak bahwa kami harus mengemasi barang seadanya dan memulai hidup baru."
Banyak warga Kolombia tergerak membantu dengan membawa air, makanan, dan perlengkapan ke daerah terdampak. Antrean panjang terlihat di pusat donor darah.
"Ini tentang ingin membantu komunitas, kota, dan negara Anda," kata pendonor darah Ferney Cabrera.