Media Jepang dan warganet menunjukkan minat besar pada kontroversi yang melanda aktor Ha Young, yang mendapat kritik publik atas respons awalnya terhadap pengungkapan aktivitas pro-Jepang kakek buyutnya, Ahn Sang-ho (1872-1927).
Sebagian besar reaksi Jepang bersimpati pada Ha Young, dengan beberapa menyebut reaksi berlebihan sebagai 'rasa bersalah karena asosiasi' modern dan mengkritik respons di Korea Selatan.
>>> Penyanyi 'KPop Demon Hunters' EJAE Pamer Cincin Nikah Setelah 9 Tahun Bersama
Reaksi ini menyoroti perbedaan perspektif yang mencolok antara Jepang, yang pernah menjadi penjajah, dan Korea, yang pernah dijajah Jepang.
Kritik dari Media Jepang
Kolom yang diterbitkan Rabu oleh outlet konservatif Jepang JBpress menjadi salah satu contohnya.
Judulnya, 'Mengapa Korea tidak memaafkan keturunan kolaborator pro-Jepang? Rasa bersalah karena asosiasi modern yang menyudutkan selebriti dan senjata sejarah', dengan jelas mengkritik respons Korea Selatan.
Outlet itu memaparkan fakta yang diketahui, mengidentifikasi kakek buyut Ha Young sebagai Ahn Sang-ho, yang menjabat sebagai anggota dewan Asosiasi Persahabatan Bisnis Taisho, sebuah organisasi yang dibentuk selama masa penjajahan Jepang 1910-45.
JBpress menggambarkan kelompok itu sebagai organisasi kelas atas Korea yang mempromosikan 'keharmonisan antara Jepang dan Korea'.
Namun, JBpress mengatakan tindakan Ahn tidak seharusnya disamakan dengan tindakan Ha Young.
Mereka menulis, 'Ha Young tidak pernah mengalami masa penjajahan Jepang, dan tindakan masa lalu kakek buyut yang tidak pernah dia temui sekarang dijadikan masalah.
Rasanya sangat tidak masuk akal, tetapi dia entah bagaimana dicap sebagai keturunan kolaborator pro-Jepang.'
Mereka juga mengkritik budaya menggali sejarah keluarga selebriti, dengan mengatakan bahwa ketika seseorang menjadi terkenal di Korea, bukan hanya masa lalu orang itu tetapi juga sejarah orang tua, saudara kandung, dan bahkan leluhur mereka dapat menjadi sorotan.
