Luka lingkungan di Pulau Kalimantan seolah tak pernah benar-benar sembuh. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan kini telah menjadi sorotan tajam masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Fenomena ini bukan lagi sekadar kejadian musiman yang bisa diabaikan, melainkan krisis ekologis berulang yang menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Hampir setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, napas Kalimantan seolah tercekat. Asap pekat kembali menyelimuti langit, mengubah siang menjadi senja, dan memaksa ratusan sekolah hingga aktivitas perekonomian untuk lumpuh. Pertanyaan besarnya tetap menggantung: mengapa bencana ini terus berulang seperti siklus yang tak terputus?
Data Terkini: Ribuan Titik Panas Kembali Terdeteksi
Berdasarkan data pemantauan terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), situasi karhutla di Kalimantan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.487 titik panas (hotspot) terdeteksi menyebar di berbagai wilayah Pulau Kalimantan.
Data ini diperoleh melalui pemantauan Satelit NOAA-20 yang memindai kondisi termal di permukaan bumi.
"Berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026, sebaran hotspot di wilayah Kalimantan mencapai 1.487 titik," ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).
Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap titik panas tersebut, tersimpan potensi kerugian ekologis, gangguan kesehatan pernapasan bagi jutaan warga, hingga ketegangan diplomatik akibat kabut asap yang kerap melintas batas negara, seperti yang pernah terjadi dan meluas hingga ke Malaysia.
Jejak Sejarah: Tragedi 1982 yang Menjadi Awal Mula
Untuk memahami akar permasalahan karhutla di Kalimantan, kita harus menoleh ke belakang. Dikutip dari situs resmi Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), bencana kebakaran hutan skala besar pertama yang tercatat dalam sejarah modern Indonesia terjadi di Kalimantan Timur pada tahun 1982.
Kala itu, fenomena iklim El Nino memicu kekeringan parah yang berkepanjangan, berlangsung dari Juni 1982 hingga Mei 1983. Namun, alam yang kering saja tidak cukup untuk membakar hutan seluas itu. Kombinasi mematikan antara kekeringan ekstrem, aktivitas pembukaan lahan secara besar-besaran, dan pembalakan liar (illegal logging) menjadi pemicu utama.
Dampaknya sangat mengerikan. Sekitar 3,2 juta hektar hutan dan lahan di Kalimantan Timur hangus terbakar. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai angka fantastis, yakni hingga 9 miliar dolar AS. Tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi bangsa ini, namun sejarah tampaknya terus berulang.

