Drone Rusia menyerang pusat perbelanjaan di kota Kryvyi Rih, Ukraina tengah, pada Jumat (21/8), menewaskan 14 orang dan melukai puluhan lainnya.
Kota tersebut merupakan kampung halaman Presiden Volodymyr Zelenskyy, yang menggambarkan serangan itu sebagai serangan ganda, di mana gelombang drone pertama menghantam area tersebut, diikuti gelombang kedua saat petugas penyelamat merespons.
>>> Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 30.000 Orang Musim Panas Ini
"Serangan seperti ini tidak lain adalah aksi teroris," tulis Zelenskyy di media sosial.
Kepala administrasi setempat, Oleksandr Vilkul, menyebutkan korban tewas mencapai 14 orang, dan menambahkan bahwa 121 orang terluka, termasuk 22 anak-anak.
Ia mengatakan operasi penyelamatan masih berlangsung.
Kryvyi Rih telah berulang kali menjadi sasaran serangan selama perang yang berlangsung lebih dari empat tahun, dengan salah satu yang paling mematikan terjadi pada April 2025, ketika 20 orang, termasuk sembilan anak-anak, tewas.
Serangan Jumat itu terjadi hanya 24 jam setelah Rusia menggempur ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan puluhan rudal dan drone dalam serangan udara malam hari yang menewaskan sedikitnya 16 orang.
Rusia Manfaatkan Kelangkaan Sistem Pertahanan Ukraina
Pasukan Moskow dalam beberapa bulan terakhir mengintensifkan serangan rudal balistik ke Kyiv, memanfaatkan kelangkaan kronis pencegat pertahanan udara Patriot buatan AS, satu-satunya senjata yang mampu menembak jatuh rudal tersebut.
Serangan skala besar Rusia menjadi kejadian rutin pada musim panas ini.
Sedikit lebih dari dua minggu lalu, serangan Rusia di Kyiv dan sekitarnya menewaskan 17 orang, dan sembilan orang tewas di kota itu dua hari sebelumnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan lalu mengatakan bahwa Kyiv adalah salah satu kota yang paling terpukul pada bulan Juli, dengan sedikitnya 54 warga sipil tewas dan 202 terluka.
