Napas nasionalisme kembali berhembus kencang dari ujung barat Indonesia. Dedikasi dan keberanian dua prajurit TNI asal Kodam Iskandar Muda dalam menjaga kedaulatan simbol negara di Aceh berbuah manis. Keduanya resmi mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) atas aksi heroik mereka menurunkan Bendera Bulan Bintang dan mengibarkan kembali Sang Saka Merah Putih.
Upacara penganugerahan penghargaan bergengsi ini digelar langsung di Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Kamis lalu (20/8/2026). Momen bersejarah ini menjadi bukti nyata bahwa Negara tidak pernah tidur, dan TNI selalu memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi prajurit yang melampaui panggilan tugasnya.
Dua Pahlawan dari Kodam Iskandar Muda
Dua prajurit yang menjadi pusat perhatian dalam upacara tersebut adalah Sersan Dua (Serda) Irfan Farhan dan Prajurit Dua (Prada) Donni Pinto Harahap. Atas keberanian dan refleks cepat mereka dalam menjaga marwah bendera kebangsaan, keduanya kini resmi menyandang pangkat yang lebih tinggi.
Irfan Farhan dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Satu (Sertu), sementara Donni Pinto Harahap kini menjadi Prajurit Satu (Pratu). Kenaikan pangkat ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah penghormatan atas insting kebangsaan yang mereka tunjukkan di lapangan.
Aksi Memanjat Tiang: Simbol Kedaulatan yang Tak Bisa Ditawar
Aksi heroik keduanya terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh. Dalam momen yang seharusnya penuh dengan kedamaian dan persatuan tersebut, bendera Merah Putih sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sempat tergantikan.
Tanpa ragu dan mengesampingkan risiko keselamatan pribadi, Irfan dan Donni memilih untuk memanjat tiang bendera. Dengan sigap, mereka menurunkan Bendera Bulan Bintang dan memastikan bahwa Sang Saka Merah Putih kembali berkibar gagah di angkasa Aceh. Tindakan fisik yang menuntut keberanian dan ketangkasan ini sarat akan makna ideologis: bahwa Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia.
Apresiasi Langsung dari Panglima TNI
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, menjelaskan bahwa penghargaan ini diberikan sebagai bentuk kebanggaan institusi terhadap prestasi luar biasa anggotanya.
"Baru saja dilaksanakan upacara penganugerahan pemberian kenaikan pangkat luar biasa yang dilaksanakan oleh Panglima TNI kepada dua prajurit TNI yang menunjukkan prestasi lebih," ujar Mayjen Nas di sela-sela upacara di Mabes TNI, Jakarta Timur.
Menurut Nas, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto secara langsung memimpin dan menyerahkan penghargaan tersebut. Hal ini menunjukkan betapa tingginya atensi pimpinan tertinggi TNI terhadap tindakan prajuritnya yang berani membela simbol negara.
"Penghargaan diberikan berupa kenaikan pangkat luar biasa operasi militer selain perang kepada prajurit yang dinilai melaksanakan tugas melebihi panggilan tugas pokok," tegas Mayjen Nas.
Cerminan Nilai Luhur Sapta Marga dan Sumpah Prajurit
Lebih jauh, Kapuspen TNI menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Sertu Irfan dan Pratu Donni bukanlah tindakan impulsif semata. Aksi mereka adalah manifestasi dari nilai-nilai luhur yang tertanam dalam diri setiap prajurit TNI.
Keduanya telah berhasil menerjemahkan Pancasila, Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI ke dalam tindakan nyata di lapangan. Jajaran pimpinan TNI, kata Nas, memberikan apresiasi luar biasa ini lantaran keduanya telah menunjukkan prestasi yang tidak hanya baik, tetapi juga heroik dan inspiratif.
Pesan Ketegasan: Aceh Adalah Indonesia
Aksi penurunan bendera simbol organisasi tertentu dan pengibaran kembali Merah Putih ini juga sejalan dengan tegasnya sikap TNI dalam menjaga keutuhan NKRI. Seperti yang sempat ditegaskan dalam berbagai kesempatan, TNI memandang bahwa kondisi Aceh saat ini sangat kondusif, dan segala bentuk simbol yang bertentangan dengan kedaulatan negara tidak memiliki tempat di bumi Serambi Mekkah tersebut.
Kisah heroik Sertu Irfan Farhan dan Pratu Donni Pinto Harahap ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan internal TNI, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bahwa cinta tanah air dan menjaga simbol kedaulatan adalah tugas mulia yang menuntut pengorbanan, keberanian, dan ketulusan hati.