unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Tekanan Rupiah Berpotensi Berlanjut Menjelang Pengumuman MSCI
News

Tekanan Rupiah Berpotensi Berlanjut Menjelang Pengumuman MSCI

Tekanan Rupiah Berpotensi Berlanjut Menjelang Pengumuman MSCI
uang • pixabay
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah masih menghadapi risiko tekanan tambahan menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Rabu (13/5/2026).

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai hasil evaluasi MSCI dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan dampak terbesar akan muncul apabila hasil rebalancing memunculkan kejutan negatif di luar perkiraan pasar.

“Kalau hasil rebalancing MSCI besok buruk, tentu bisa menambah tekanan ke pasar keuangan dan rupiah. Tapi penting dibedakan mana yang masih mengejutkan pasar dan mana yang sebenarnya sudah lama diantisipasi,” ujar Yusuf pada Selasa (12/5/2026).

Pada perdagangan Selasa sore, rupiah ditutup melemah 114 poin ke posisi Rp 17.528 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.414 per dolar AS.

Menurut Yusuf, pasar sejauh ini sudah mulai mengantisipasi potensi perubahan dalam indeks MSCI. Saham yang disebut berisiko keluar dari indeks, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), telah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, arus modal asing keluar juga dinilai sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir sehingga sebagian pelaku pasar telah melakukan penyesuaian portofolio lebih awal.

“Jadi kalau hasil hanya sesuai ekspektasi pasar, dampak tambahannya kemungkinan terbatas karena investor sudah mencicil penyesuaian posisi lebih dulu,” kata Yusuf.

Ia menambahkan risiko lebih besar dapat muncul apabila jumlah saham yang terdampak lebih banyak dari perkiraan atau bobot Indonesia di indeks MSCI turun lebih dalam.

Catatan negatif terkait transparansi dan struktur pasar Indonesia juga dinilai dapat memicu tekanan lanjutan terhadap pasar keuangan domestik.

Menurut Yusuf, dana pasif dan exchange traded fund (ETF) umumnya melakukan penyesuaian mendekati tanggal efektif rebalancing sehingga volatilitas pasar masih mungkin berlanjut.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Dari eksternal, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dan memperbesar ketidakpastian pasar global.

Di dalam negeri, kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji disebut ikut meningkatkan permintaan valuta asing.

Bank Indonesia memastikan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF).

Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen operasi moneter guna meredam tekanan terhadap mata uang domestik.

“BI melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow. Khususnya ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun,” ujar Destry.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru