unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Wamenko Pangan: Kehutanan Penopang Ketahanan Pangan Nasional
News

Wamenko Pangan: Kehutanan Penopang Ketahanan Pangan Nasional

Ilustrasi hutan sebagai penopang ketahanan pangan
A A Ukuran Teks16px

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa sektor kehutanan menjadi penopang ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, kehutanan menentukan stabilitas tata air, kesuburan tanah, dan keseimbangan iklim di tengah ancaman perubahan lingkungan global.

Pernyataan itu disampaikan Hanif saat kuliah umum di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (18/5/2026).

FOLU Net Sink 2030 dan Ketahanan Pangan

Hanif menjelaskan bahwa pemerintah menempatkan program FOLU Net Sink 2030 tidak hanya sebagai agenda pengendalian emisi karbon.

Program itu juga menjadi strategi memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional melalui pengelolaan hutan yang lestari dan produktif.

Ia menekankan bahwa hutan merupakan infrastruktur ekologis yang menjaga siklus tata air, melindungi keanekaragaman hayati, dan menopang stabilitas iklim.

Semua itu berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan sistem pangan nasional.

Hanif mengingatkan ancaman triple planetary crisis berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi tantangan serius bagi sektor pangan.

Kerusakan hutan dapat meningkatkan risiko banjir, kekeringan, hingga penurunan produktivitas pertanian di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintah terus memperkuat implementasi FOLU Net Sink 2030 melalui rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi gambut dan mangrove, serta pengembangan perhutanan sosial.

Multiusaha kehutanan berbasis pangan yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan juga menjadi bagian dari pembangunan ekonomi hijau nasional.

Hanif mendorong generasi muda kehutanan untuk memperkuat inovasi dan riset pengelolaan hutan lestari.

Hal itu penting agar mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya alam.

Rektor ULM Prof Ahmad Alim Bachri mengatakan isu ketahanan pangan dan keberlanjutan kehutanan menjadi tantangan strategis.

Diperlukan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat melalui penguatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Menurutnya, Fakultas Kehutanan ULM berperan penting menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan Fathimatuzzahra menyatakan materi yang disampaikan Wamenko Pangan sejalan dengan implementasi program FOLU Net Sink 2030 di provinsi setempat.

Program tersebut meliputi rehabilitasi hutan dan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, serta fasilitasi Kelompok Tani Hutan.

Kegiatan itu bertujuan menjaga fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan.

Hanif menambahkan bahwa ancaman triple planetary crisis berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi tantangan serius bagi sektor pangan.

Kerusakan hutan dapat meningkatkan risiko banjir, kekeringan, hingga penurunan produktivitas pertanian di berbagai wilayah Indonesia.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru