Dalam pratinjau penuh makna menjelang konvensi, wartawan diundang ke dua situs paling simbolis: Pemakaman Peringatan PBB dan bekas Kedutaan Besar AS/Layanan Informasi AS.
Bekas Kedutaan Besar AS/Layanan Informasi AS
Meskipun sekilas tampak seperti bangunan kolonial biasa, bekas Kedutaan Besar AS/Layanan Informasi AS memiliki resonansi sejarah yang sama.
Dibangun pada tahun 1929 sebagai cabang Busan dari Perusahaan Pembangunan Oriental, bangunan ini beralih fungsi menjadi Layanan Informasi AS setelah pembebasan Korea, dan akhirnya menjadi Kedutaan Besar AS ketika Perang Korea pecah.
Selama perang dan puluhan tahun setelahnya, bangunan ini berdiri sebagai saluran penting untuk diplomasi dan bantuan, menjembatani kesenjangan antara pemerintah Korea, Washington, badan-badan PBB, dan dunia luas.
Saat ini, arsitektur bangunan membangkitkan semangat demokrasi liberal yang diperjuangkan orang-orang selama perang.
"Ini adalah pusat mutlak dari pusat kota bersejarah Busan.
Selama puncak Perang Dingin, tempat ini berfungsi sebagai mercusuar untuk memperkenalkan dan mempromosikan demokrasi liberal," kata seorang pejabat museum.
Berdiri dengan tenang di tengah lanskap kota modern, tempat ini menjadi pengingat kuat akan masa ketika dunia bersatu.
Pada akhirnya, proyek "Busan sebagai Ibu Kota Masa Perang" memilih untuk tidak membingkai narasinya seputar bekas luka perang yang suram.
Sebaliknya, proyek ini berupaya menambatkan Nilai Universal Luar Biasa untuk status UNESCO pada ketahanan kota yang luar biasa — bagaimana kota itu mempertahankan fungsi negara di bawah tekanan, menampung satu juta pengungsi bersama penduduknya sendiri, dan menghadapi krisis kemanusiaan yang mencengangkan melalui aliansi global dan bantuan internasional.
Narasi ini terungkap di 11 landmark yang saling terhubung. Selain dua situs yang disebutkan, Camp Hialeah berdiri sebagai bukti lain solidaritas internasional.