Warga desa Abdin di Provinsi Daraa, Suriah selatan, masih trauma setelah tentara Israel masuk ke desa mereka pada Minggu (29/6).
Mereka memblokir jalan dengan batu dan melempari patroli militer Israel.
Tentara Israel membalas dengan tembakan peringatan ke dinding dan di antara warga yang marah, lalu menembakkan artileri ke desa.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, namun sebagian besar warga melarikan diri dan masih terlalu takut untuk kembali pada Senin (30/6).
Ketegangan di Zona Penyangga
Abdin terletak di dekat zona penyangga yang dijaga PBB, namun kini dikuasai tentara Israel. Israel merebut zona itu pada Desember 2024 setelah jatuhnya Presiden Bashar Assad.
Awalnya Israel menyebut pendudukan itu sementara, namun pejabat tinggi Israel kini mengatakan akan menduduki zona penyangga tersebut tanpa batas waktu.
Seorang warga, Mohammad al-Hassan, mengatakan tentara Israel datang secara rutin setiap beberapa hari. Mereka masuk dengan kendaraan lapis baja, berkeliling desa, dan menggeledah rumah.
“Jika orang tidak membukakan pintu, mereka mendobraknya. Wanita dan anak-anak mulai berteriak, itu sangat menakutkan,” ujarnya.
Pemerintah Suriah Kecam
Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, menyerukan Israel mundur dari area seluas 235 kilometer persegi yang diakui PBB. Pemerintah Suriah juga mengecam insiden di Abdin.
Insiden di Abdin adalah kekerasan kedua dalam waktu kurang dari 24 jam. Sebelumnya, militer Israel mengumumkan telah membunuh dua militan yang diduga hendak menyerang tentara Israel.
Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan militan bersenjata melepaskan tembakan ke pos militer Israel, namun tidak ada yang terluka.
Warga desa Hadar melaporkan dua orang tak dikenal tewas dalam ledakan di selatan desa, dan jenazahnya dibawa militer Israel.
Walikota Hadar, Imad Hassoun, mengatakan korban bukan warga setempat.
Warga Khawatir Ketidakstabilan
Warga Abdin awalnya berharap perundingan yang dimediasi AS antara Israel dan Suriah di Prancis dapat meredakan ketegangan, namun perundingan itu tampaknya mandek.
Banyak warga memilih pergi karena situasi keamanan yang tidak stabil dan kurangnya lapangan kerja serta layanan. Pos pemeriksaan keamanan terdekat berjarak 10 kilometer dari Abdin.
Sobhi al-Tawlbi, 66 tahun, mengatakan petani kesulitan mengakses hasil panen dan sumber air. “Kami butuh dukungan pemerintah agar bisa bertahan di desa kami,” katanya.
Ia meminta komunitas internasional menekan Israel untuk menghentikan serangan militernya.
Warga perbatasan Suriah menegaskan mereka bukan ancaman dan menginginkan kehidupan yang stabil setelah perang saudara selama 13 tahun.
“Kenapa mereka mengganggu kami? Kami hidup damai di sini,” kata al-Hassan.