Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berkembang pesat sejak ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional pada 2016.
Bandara Komodo juga masuk dalam Proyek Strategis Nasional pada 2020.
>>> Jaksa Agung Tunjuk Rudi Margono sebagai Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah
Pembangunan infrastruktur dan adopsi teknologi informasi membuat masyarakat lokal mulai menyerap nilai-nilai modern.
Namun, hal ini menimbulkan keresahan bagi Elizabeth Yani Tararubi, pemilik dan penggagas komunitas desa wisata Dapur Tara.
Wanita yang akrab disapa Liz itu prihatin karena generasi muda Manggarai mulai tidak mengenal budaya lokal.
“Sekarang generasi muda di sini sudah tidak bisa memasak makanan asli lokal, tidak bisa menenun, membuat rajutan dan mengerti adat istiadat setempat,” katanya.
>>> Cara Dapat Surat Keterangan Terdaftar Pajak dan Syaratnya
Pernyataan itu disampaikan Liz saat berbincang dengan jurnalis dan peserta Workshop Bakti BCA di rumah panggungnya.
Rumah tersebut merupakan replika kapal nenek moyang mereka saat tiba di Pulau Flores.
Dapur Tara berlokasi di Desa Melo, Liang Ndara, sekitar 21 kilometer dari Bandara Komodo. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit melalui Jalan Trans Flores yang berbukit.
Melalui desa wisata ini, Liz berupaya merestorasi budaya Flores dengan mengajak generasi muda belajar memasak makanan lokal, menenun, dan memahami adat istiadat.
>>> Profil Etik Suryani, Bupati Sukoharjo yang Jadi Tersangka KPK
Dapur Tara menjadi wadah pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi.
