Di era digital, ponsel telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, sebuah studi terbaru mengungkap dampak negatif yang mengejutkan ketika orangtua terlalu sering menatap layar di dekat anak.
>>> Film Free Willy Dapat Reboot, Digarap Rumah Produksi Russo Brothers
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology ini melibatkan 600 remaja berusia 12–17 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap kebiasaan orangtua yang kecanduan ponsel berkorelasi kuat dengan munculnya masalah kelekatan (attachment issues).
Metodologi Penelitian
Para peneliti menggunakan dua instrumen utama: Skala Masalah Kelekatan Remaja dan Device Attachment Interference Scale (DAIS). DAIS mengukur seberapa sering interaksi orangtua-anak terganggu oleh perangkat digital.
Pertanyaan dalam DAIS mencakup apakah anak merasa diabaikan saat orangtua memegang ponsel, merasa tidak penting dibanding notifikasi, atau merasa orangtua tidak peduli karena terlalu fokus pada gawai.
>>> Google Ubah Aturan: Data Cadangan Android Makin Cepat Penuhkan Kuota
Semakin tinggi skor DAIS, semakin tinggi pula indikator insecure attachment pada remaja. Hal ini menunjukkan hubungan signifikan antara gangguan perangkat dan masalah kelekatan.
Dua Tipe Respons Emosional
Penelitian mengidentifikasi dua tipe insecure attachment: avoidant dan anxious.
Tipe avoidant cenderung menutup diri dan tidak percaya pada kedekatan emosional, sementara tipe anxious sangat mendambakan perhatian dan mudah cemas jika diabaikan.
>>> Sam Neill, Pembuka Jalan Film Selandia Baru ke Panggung Global
Kedua respons ini sama-sama merugikan dan dapat bertahan hingga masa dewasa. Temuan ini menekankan pentingnya kehadiran emosional orangtua, bukan sekadar waktu layar.
