Amerika Serikat mengumumkan serangan baru terhadap Iran pada Senin, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengatakan Washington akan memblokade Selat Hormuz dan mengenakan biaya pada kapal yang melintas.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa militer telah memulai putaran serangan baru terhadap Iran.
>>> Satu Orang Tewas dalam Penembakan yang Libatkan ICE di Maine
"Serangan ini akan terus memberikan dampak berat pada pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka menyerang warga sipil serta pelayaran komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan militer AS.
Trump sebelumnya mengatakan kepada penyiar radio konservatif Hugh Hewitt, "Kami akan menghantam mereka sangat keras malam ini dan besok — dan tidak ada yang bisa mereka lakukan."
Ia menambahkan, "Mereka tidak punya apa-apa selain mulut besar."
Perubahan Kebijakan AS
Serangan ini mengikuti perubahan kebijakan AS yang sebelumnya menyatakan selat harus tetap terbuka tanpa biaya.
Trump mengatakan akan memulihkan blokade Iran dan mengenakan biaya 20 persen dari nilai kargo untuk keamanan.
Harga minyak mentah Brent naik 7,8 persen menjadi $81,92 per barel pada Senin, masih jauh di bawah hampir $120 pada puncak perang.
Trump juga mengatakan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bulan lalu hanya untuk menguji Iran. Pekan lalu ia menyatakan gencatan senjata "berakhir" karena Iran tidak menghormati uji coba tersebut.
Tanggapan Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek Trump di media sosial dan mendukung pengenaan biaya untuk legitimasi posisi Iran.
"POTUS benar. Siapa pun yang menyediakan jalur aman bagi kapal komersial harus diberi kompensasi.
Iran selalu menjadi penjaga Selat Hormuz," tulisnya.
>>> Harga Solar Khusus Nelayan Kapal Besar Dipatok Rp15 Ribu per Liter
