Kilang minyak Asia berada dalam posisi strategis untuk memasok produk minyak bumi ke pasar global.
Hal ini terjadi karena konflik yang kembali memanas di Timur Tengah dan larangan ekspor solar Rusia telah membatasi pasokan bahan bakar.
>>> Pakar: Dishub Jakarta Tak Bisa Tangani ODOL Sendiri, Penertiban Harus dari Hulu
Pasar bahan bakar di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda kelangkaan yang mencapai rekor.
Sementara itu, pengolah minyak Asia memiliki persediaan produk siap jual dan cadangan minyak mentah yang diperoleh selama jeda pertempuran sebelumnya.
>>> Polda Metro Jaya Dukung Penertiban Truk ODOL Usai Tabrak JPO
Kondisi ini memungkinkan kilang Asia memanfaatkan margin yang menguntungkan. Namun, prospek tersebut dapat berubah cepat karena pasar menghadapi gelombang gejolak baru setelah gencatan senjata AS-Iran runtuh.
Serangan baru yang menargetkan Selat Hormuz turut memicu ketidakpastian. Meski harga minyak mentah terdongkrak, harga produk minyak melonjak lebih tajam.
>>> Ratusan Ekonom Desak Antisipasi Dampak AI, Cemas Gelombang PHK
Kenaikan harga produk minyak sebagian disebabkan keputusan Moskow menghentikan ekspor solar. Langkah itu diambil setelah serangkaian serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia.

