Pemerintahan Presiden Donald Trump telah merampungkan aturan yang membatasi masa tinggal mahasiswa internasional di Amerika Serikat maksimal empat tahun, kecuali mereka mendapat persetujuan dari pemerintah federal.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengumumkan aturan tersebut pada Kamis (17/7) sebagai perubahan dari praktik yang telah berlangsung lama.
>>> BI Buka Suara Soal Kondisi Likuiditas Perbankan
Aturan ini mulai berlaku pada September mendatang.
Selain batas waktu, aturan baru ini juga memberlakukan pembatasan kapan dan bagaimana mahasiswa dapat mengubah jurusan atau program akademik mereka.
Saat ini, mahasiswa umumnya diizinkan tinggal selama masa studi, yang seringkali lebih dari empat tahun.
Kritik dari Kalangan Pendidikan Tinggi
Para pemimpin pendidikan tinggi menentang aturan ini. Mereka menilai perubahan tersebut menambah beban administratif bagi sekolah, universitas, dan pemerintah federal.
Zuzana Wootson, wakil direktur kebijakan federal di Presidents’ Alliance on Higher Education and Immigration, menyebut langkah ini tidak perlu dan tumpang tindih.
Menurutnya, mahasiswa internasional sudah termasuk kelompok non-imigran yang paling ketat diawasi di AS.
Sekretaris DHS Markwayne Mullin menyatakan aturan ini untuk menutup celah yang dieksploitasi mahasiswa asing dengan memperpanjang studi.
Ia menegaskan aturan ini memastikan mahasiswa asing fokus pada tujuan utama mereka, yaitu menyelesaikan studi dan pulang ke negara asal.
>>> Gaduh Antrean BBM, Perencanaan Distribusi Pertamina Dinilai Lemah
Dampak pada Mahasiswa Internasional
Aturan ini merupakan bagian dari rangkaian tindakan keras pemerintahan Trump terhadap mahasiswa internasional. Sebelumnya, pemutusan status hukum massal membuat mahasiswa ketakutan dan bersembunyi.
Pemerintah federal juga mewajibkan pemohon visa untuk membagikan akun media sosial mereka.
Selain itu, larangan perjalanan yang mencakup lebih dari belasan negara di Afrika, Timur Tengah, dan Asia semakin membatasi kemampuan mahasiswa untuk mendapatkan visa.
Aturan ini muncul di tengah menurunnya jumlah pendaftaran mahasiswa internasional. Dampak paling terasa di sekolah dengan dana abadi kecil dan jumlah mahasiswa asing yang besar.
Mahasiswa internasional tidak memenuhi syarat untuk bantuan keuangan federal, sehingga sering membayar biaya kuliah penuh.
Para pemimpin pendidikan tinggi memperingatkan ketidakpastian ini dapat mendorong mahasiswa asing ke negara lain.
Fanta Aw, CEO NAFSA, asosiasi yang mewakili pendidikan internasional, mengatakan kebijakan ini mengirim pesan yang salah di saat persaingan global untuk talenta semakin ketat.
>>> Viral Aksi Pemuda Kejar Waria di Bogor, Tuai Pro Kontra di Media Sosial
Ia menilai AS menjadi kurang ramah, kurang dapat diprediksi, dan kurang berkomitmen terhadap mahasiswa dan cendekiawan terbaik dunia.
