Ekonom memproyeksikan kinerja fiskal pemerintah pada semester II-2026 akan menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
Beban subsidi energi yang meningkat, potensi pelemahan penerimaan pajak, serta kenaikan ongkos pembiayaan menjadi faktor utama yang membayangi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
>>> BNI Perkuat Fundamental Bisnis dan Dukung Transformasi BUMN
Tekanan dari Harga Minyak
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan perbaikan fiskal pada semester I-2026 kemungkinan tidak berlanjut sepenuhnya.
Salah satu risiko utama berasal dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang mempengaruhi beban subsidi pemerintah.
"Semester II akan banyak ditentukan dari pergerakan harga minyak mentah dunia.
>>> Pengamat: Whip Pink Bukan untuk Rekreasi, Mengandung Zat Berbahaya
Perkembangannya sampai saat ini masih cukup dinamis," ujar Yusuf dalam CORE Midyear Economic Review 2026, Rabu (29/7/2026).
Ia memaparkan harga minyak secara year to date (ytd) telah berada di kisaran US$85 per barel, lebih tinggi dari asumsi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
>>> Proyek Coal-to-Methanol BEC Target Substitusi Impor Metanol
Selain itu, persepsi risiko terhadap Indonesia yang meningkat turut mendorong kenaikan ongkos pembiayaan, memperberat tekanan fiskal.
