Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga pekan pada Kamis (21/8/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan membalas negara-negara yang mendukung Iran.
Langkah ini merupakan upaya terbaru Washington untuk menyelesaikan perang yang telah membuat jutaan barel minyak Timur Tengah terkatung-katung.
>>> Iran Sebut Sanksi Baru AS sebagai Terorisme Ekonomi dan Kejahatan Kemanusiaan
Brent berjangka naik $2,20 atau 2,4 persen menjadi $93,82 per barel pada pukul 11.36 waktu setempat.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berjangka untuk pengiriman September naik $2,33 menjadi $88,16 per barel.
Kedua patokan mencatat harga tertinggi sejak 24 Juli dan menguat untuk sesi kelima berturut-turut.
Kontrak WTI September akan berakhir pada Kamis waktu setempat.
Trump pada Rabu mengancam akan melakukan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi" terhadap Teheran.
Ia juga memperingatkan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan "bantuan apa pun kepada Iran".
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan akan mengadakan konferensi pers pada Senin untuk membahas langkah selanjutnya.
Perang yang telah berlangsung hampir enam bulan ini menewaskan ribuan orang, dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran.
Blokade Selat Hormuz oleh Teheran dan serangan Iran terhadap fasilitas energi di Timur Tengah telah mengganggu aliran minyak dan gas ke berbagai belahan dunia.
>>> PLN Siapkan Pasokan Listrik Andal untuk MRT Jakarta Fase 2A
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, sehingga membuka ruang untuk gangguan pasokan lebih lanjut.
Ekspor minyak yang lebih rendah dari Timur Tengah kembali memperketat pasar minyak, tambahnya.
Ancaman Trump terhadap negara-negara yang membantu Iran berpotensi menjadi isu sensitif dalam hubungan AS-China, karena China adalah importir terbesar minyak mentah Iran, kata analis energi StoneX Alex Hodes.
