Institute for Essential Services Reform (IESR) memperingatkan bahwa penerapan mandatori bensin dengan campuran bioetanol 10% (E10) hingga 20% (E20) berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menjelaskan kondisi ini berbeda dengan program biodiesel yang saat ini telah mencapai level mandatori B50.
>>> Cemas Pasokan Timteng, India Jorjoran Borong Minyak di Pasar Spot
Perbedaan Insentif Biodiesel dan Bioetanol
Selama ini, insentif pendanaan biodiesel dipasok oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui pungutan ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.
Sementara itu, sektor bioetanol hingga kini belum memiliki lembaga pengelola dana khusus untuk menjamin insentif ketika terjadi selisih harga antara bioetanol dan bensin fosil.
>>> Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol Diproyeksi Lebih Cuan dari DME
"Keberhasilan biodiesel berjalan hingga target B50 terjadi karena adanya insentif dari BPDP yang dihimpun dari ekspor produk sawit.
>>> Kebakaran Hutan Yunani Mendekati Athena, Warga Dievakuasi
Namun, untuk bioetanol, mekanismenya belum ada sehingga kemungkinan besar justru akan menjadi beban tambahan bagi APBN," ujar Fabby kepada Bloomberg Technoz, dikutip Sabtu (1/8/2026).

