Kepergian pelukis Nasirun menyisakan duka mendalam bagi sahabat dan pelaku seni.
Ia bukan hanya maestro seni rupa Indonesia, tetapi juga sosok yang memilih hidup sederhana tanpa bergantung pada telepon genggam.
>>> Samsung Siapkan Perangkat Rollable pada 2027? Ini Bocorannya
Meski tanpa gawai, pengaruh dan relevansi karya-karyanya tidak pernah pudar. Banyak pihak mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, ringan tangan, dan selalu hadir membantu sesama.
Hidup Tanpa Gawai, Karya Tetap Kontekstual
Musisi Marzuki Mohamad atau Kill the DJ, pendiri Jogja Hip Hop Foundation, mengenang Nasirun sebagai teman dan guru yang akrab.
Ia menyoroti kebiasaan Nasirun yang tidak mau terikat pada handphone.
"Pak Nasirun nggak mau terpenjara dengan hal semacam itu.
Dan karya-karyanya pun tetap kontekstual, meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma sosial media," kata Marzuki di rumah duka, Sabtu (1/8).
Menurut Marzuki, di tengah banyak seniman yang mengejar viralitas, Nasirun justru membuktikan karya besar lahir dari kebebasan berekspresi, bukan tekanan tren digital.
Aura Kebebasan dan Kemurahan Hati
Sastrawan Gabriel Possenti Sindhunata atau Romo Sindhu mengaku masih sulit mempercayai kepergian Nasirun.
Ia menilai Nasirun adalah orang bebas yang tidak mau terikat oleh apa pun, termasuk kemajuan dan fasilitas.
"Dia memang orang bebas ya, tidak mau terikat oleh apapun, menandakan dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, fasilitas.
Menghayati kreatifitasnya dengan sendirinya," ujar Romo Sindhu.
Romo Sindhu menambahkan, tanpa perangkat digital, Nasirun tetap dekat dengan banyak orang. Ia menjadi tempat bernaung para seniman dan memancarkan kebaikan melalui karya serta kepribadiannya.
"Sehingga tanpa HP pun orang selalu dekat padanya, karena banyak yang dia tolong karena dia menampung banyak karya-karya seni.

