Wall Street bertahan pada Rabu saat pasar menunggu pengumuman Federal Reserve. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi tinggi.
S&P 500 naik 0,4 persen dan berpotensi mencatat kenaikan kedua dalam delapan hari terakhir.
Dow Jones Industrial Average turun 26 poin atau 0,1 persen pada pukul 12.31 waktu Timur, sedangkan Nasdaq composite naik 0,7 persen.
Pasar saham mendapat dukungan dari melandainya harga minyak dan tekanan di pasar obligasi. Harga satu barel Brent, patokan internasional, turun 3,1 persen menjadi 105,39 dolar AS.
Minyak sempat mendekati 110 dolar AS awal pekan ini karena kekhawatiran perang dengan Iran akan mengganggu aliran minyak global.
Hal itu turut menurunkan imbal hasil Treasury 10 tahun menjadi 4,96 persen dari 5,00 persen pada Selasa malam.
Awal pekan ini adalah pertama kalinya sejak 2023 imbal hasil 10 tahun menembus 5 persen.
Meski melandai pada Rabu, tekanan masih tinggi karena Brent masih jauh di atas harga 72 dolar AS sebelum perang dengan Iran.
Saat itu imbal hasil 10 tahun hanya 3,97 persen.
Kekhawatiran inflasi yang tetap tinggi membuat Wall Street melihat kenaikan suku bunga pertama sejak 2023 sebagai hampir pasti.
Langkah itu merupakan cara Fed melawan inflasi dengan membuat biaya pinjaman lebih mahal. Kebijakan tersebut memperlambat ekonomi dan diharapkan menghilangkan pemicu kenaikan harga lebih lanjut.
Kenaikan suku bunga juga cenderung menekan harga saham dan investasi lain. Presiden Donald Trump justru melobi agar suku bunga diturunkan, bukan dinaikkan.
