PT PLN (Persero) berencana mengandalkan teknologi pumped storage hydropower (PSH) sebagai 'baterai raksasa' untuk mendukung target pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Langkah ini diambil berdasarkan evaluasi atas insiden mati listrik massal (blackout) yang melanda sebagian Jawa pada 2019.
>>> Harapan Damai Timur Tengah Dorong Dow dan S&P ke Rekor; SpaceX dan AMD Tekan Nasdaq
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, mengungkapkan bahwa blackout 2019 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya waktu respons.
"Pengalaman blackout pada 2019 memberikan pelajaran berharga bahwa kita memiliki window time sekitar 6 menit untuk menstabilkan jaringan," ujarnya dalam Indonesia Hydropower Summit 2026, Rabu (5/8/2026).
>>> AS Tawarkan Hadiah Rp400 M untuk Warga AS yang Pimpin Kartel Meksiko
Meskipun sempat dikritisi dari sisi keekonomian, pengembangan pumped storage akan tetap dilanjutkan, baik oleh PLN maupun IPP.
Secara operasional, fasilitas PSH menampung energi saat permintaan listrik menurun dengan memompa air ke tempat yang lebih tinggi.
>>> Profil Kepala Lemigas Iksan Kiat, Punya Rekam Jejak di Rusia
Air kemudian dilepaskan kembali ke waduk bawah untuk menghasilkan pasokan listrik tambahan saat terjadi lonjakan konsumsi atau beban puncak.

