Ekonom menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih sangat bergantung pada stimulus fiskal pemerintah.
Hal ini tercermin dari tingginya belanja pemerintah yang menjadi penopang utama konsumsi masyarakat di tengah daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
Direktur Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, pertumbuhan konsumsi, baik pemerintah maupun rumah tangga, sangat bergantung pada stimulus fiskal.
"Kita bisa katakan doping-nya besar sekali," ujarnya dalam diskusi pada Kamis (6/8/2026).
Eko menilai kualitas pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 lebih mengkhawatirkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meskipun secara angka pertumbuhan tercatat lebih tinggi.
Konsumsi Rumah Tangga Melambat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026.
Angka ini melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,52%.
Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak 15,97% yoy, berbalik tajam dari kontraksi 0,32% pada periode yang sama tahun lalu.
Eko menilai perlambatan konsumsi rumah tangga menunjukkan daya beli masyarakat secara alami masih belum cukup kuat.
Konsumsi masih ditopang oleh belanja negara dan efek musiman hari besar keagamaan seperti Ramadan serta Natal dan Tahun Baru.