unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Skizofrenia, Keluarga, dan Pilihan yang Memilukan dalam Dokumenter Jepang

Skizofrenia, Keluarga, dan Pilihan yang Memilukan dalam Dokumenter Jepang

Skizofrenia, Keluarga, dan Pilihan yang Memilukan dalam Dokumenter Jepang
Ilustrasi: Skizofrenia, Keluarga, dan Pilihan yang Memilukan dalam Dokumenter Jepang
A A Ukuran Teks16px

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita melakukannya?

Apa pilihan terbaik? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin pernah menghantui siapa pun yang memiliki anggota keluarga sakit.

>>> Di Balik Video Performa Viral YG: Dari BIGBANG hingga BLACKPINK

Dokumenter Jepang berjudul "What Should We Have Done?" mengangkat pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur.

Film ini menggambarkan konflik, keheningan, dan ketahanan sebuah keluarga yang merawat anggota yang menderita penyakit dengan stigma sosial.

Rekaman 20 Tahun yang Menyayat Hati

Disutradarai oleh Tomoaki Fujino, film ini merekam perjalanan keluarganya selama lebih dari 20 tahun.

Kisah dimulai pada 1983 ketika kakak perempuannya, Masako, yang saat itu mahasiswa kedokteran, menunjukkan gejala skizofrenia.

Kedua orang tua mereka adalah peneliti medis, tetapi menolak memberikan perawatan psikiatri yang tepat.

Mereka mengunci pintu dan merawat Masako di dalam rumah selama puluhan tahun, terikat oleh harga diri dan kekhawatiran akan stigma sosial.

Fujino mulai merekam audio interaksi keluarga pada 1983 dan menggunakan kamera video pada 2001.

Ia terus merekam bahkan setelah ibunya meninggal pada 2011, menjaga kamera tetap fokus pada keluarganya.

Penolakan dan Harapan Palsu

Film ini tidak memiliki musik dramatis atau narasi suara. Sebaliknya, film menyajikan momen-momen yang diambil saat sutradara pulang ke rumah selama liburan.

Seiring berlalunya tahun, penonton menyaksikan orang tua menua dan kondisi Masako memburuk. Tatapan kosong dan gumaman pelannya menunjukkan penderitaan akibat isolasi.

Film ini menggambarkan penolakan dan penipuan diri dalam rumah tangga. Ibunya berganti-ganti antara meremehkan penyakit dan mengalihkan kesalahan, bersikeras bahwa putrinya masih belajar kedokteran.

Sang ayah juga menyimpan harapan yang tidak realistis, membelikan buku kedokteran untuk putrinya yang setengah baya sambil tetap menguncinya di dalam rumah.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru
stikibot