>>> Chelsea Bungkam AC Milan 3-0 di Indonesia Super Cup 2026, Joao Pedro Bersinar di SUGBK
Menurut tradisi setempat, kerajinan menenun ini berawal ketika Putri Wencheng memperkenalkan teknik menenun ke Tibet setelah menikah dengan raja.
Dalam sejarah resmi Tiongkok, pernikahan mereka melambangkan ikatan historis antara Tibet dan Tiongkok.
"Itu mengintegrasikan budaya Tibet dan Tiongkok," kata Pasang tentang sejarah kain ini.
Associated Press bergabung dalam perjalanan yang disponsori pemerintah ke Lhasa dan Shannan bulan lalu, yang mencakup kunjungan ke koperasi, istana, kuil Buddha, tempat wisata, pusat perawatan lansia, dan bisnis lokal.
Di sebelah bengkel, ruang pameran kecil menampilkan syal, selendang, jaket, tas, dan produk lain yang terbuat dari Pulu dan Zeter.
Pasang mengatakan sebagian besar penjualan terjadi di Tibet, meskipun pelanggan juga datang dari daerah lain di Tiongkok.
Tsering Yangchen telah bekerja di koperasi selama tujuh tahun.
Wanita berusia 80 tahun ini pindah dari kabupaten lain dan mengaku kesulitan mencari pekerjaan sebelum bergabung dengan bengkel, tempat para instruktur mengajarinya dan orang lain cara menenun.
Ia mengatakan Pulu lebih dari sekadar produk yang ia tenun. "Kami biasanya memakainya," tambahnya.
>>> Inflasi AS Diperkirakan Mereda, CPI Naik Tipis pada Juli
"Mereka terbuat dari wol murni."
