unique visitors counter
⌂ Beranda News Kecerdasan Super Gantikan AI, Trump Pilih Lewat Jajak Pendapat
News

Kecerdasan Super Gantikan AI, Trump Pilih Lewat Jajak Pendapat

Kecerdasan Super Gantikan AI, Trump Pilih Lewat Jajak Pendapat
Kecerdasan Super Gantikan AI, Trump Pilih Lewat Jajak Pendapat
A A Ukuran Teks16px

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perubahan istilah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi kecerdasan super (super intelligence/SI).

Pengumuman itu disampaikan dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa pada Rabu (23/9/2026).

Trump menilai kata 'artificial' atau buatan membuat teknologi canggih tersebut terdengar tidak asli atau palsu.

Kebijakan penggantian istilah ini diproyeksikan berlaku pada seluruh dokumen resmi pemerintah Amerika Serikat.

"Selamat datang di dunia baru super intelligence (kecerdasan super) - SI," kata Trump.

Perubahan ini ditujukan untuk memberikan terminologi yang dinilai lebih tepat bagi perkembangan teknologi masa depan.

"Mulai sekarang, semua dokumen Amerika Serikat, dan mudah-mudahan juga di seluruh dunia, akan diubah untuk menggunakan istilah yang lebih akurat, yaitu 'super', untuk menggantikan 'buatan'.

Jadi istilah yang digunakan adalah 'kecerdasan super'," imbuhnya.

Sebelum keputusan ini diumumkan di PBB, Trump sempat menggelar jajak pendapat di media sosial Truth Social dan X.

Pengikutnya diminta memilih nama baru dari tiga opsi, yaitu Superior Intelligence, Extreme Intelligence, dan Supreme Intelligence, hingga akhirnya nama kecerdasan super keluar sebagai pemenang.

Meskipun demikian, Trump tidak membeberkan alasan akademis di balik dorongan perubahan nama tersebut.

Ketidakpastian juga menyelimuti apakah sektor industri teknologi global akan mengadopsi penamaan baru tersebut.

Penggunaan istilah kecerdasan super sendiri sebenarnya telah diperkenalkan oleh pakar filosofi Nick Bostrom pada tahun 2014 lewat bukunya.

Istilah tersebut merujuk pada jenis kecerdasan teoritis yang kemampuannya jauh melampaui manusia di berbagai sektor.

Sejumlah akademisi memberikan pandangan kritis terkait relevansi istilah tersebut dengan kondisi teknologi saat ini.

Para ahli menilai sistem yang ada sekarang belum dapat dikategorikan sebagai kecerdasan super.

"Sistem kecerdasan super, jika benar-benar terwujud, akan dianggap para ahli sebagai teknologi paling penting yang pernah dibuat," kata Simon Coghlan, dosen etika digital dari University of Melbourne.

Skeptisisme senada diutarakan akademisi lain terkait penerapan istilah tersebut untuk kapabilitas kecerdasan buatan masa kini.

"Menurut perkiraan saya, para profesional akan lebih memilih menggunakan istilah 'SI' untuk tingkat AI yang lebih tinggi, bukan untuk mendeskripsikan AI saat ini.

Rasanya teknologi ini belum sampai pada tahap tersebut," kata Ben Leong, dosen ilmu komputer di National University of Singapore.

📰 Update Terbaru