Seorang pakar Amerika Serikat menilai pangkalan militer AS di Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara Pasifik lainnya sangat rentan terhadap serangan rudal dan drone Korea Utara serta China.
Seth Jones, presiden Departemen Pertahanan dan Keamanan di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menyampaikan hal itu dalam opini di The Wall Street Journal pada Minggu.
>>> Todd Blanche Resmi Dilantik sebagai Jaksa Agung AS
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan bahwa AS kehabisan pencegat rudal utama di tengah perang di Timur Tengah.
Jones mencatat bahwa kemajuan perang drone dan rudal telah mendorong Ukraina dan Rusia mengambil langkah ekstensif untuk melindungi pangkalan mereka sejak perang skala penuh dimulai pada 2022.
Ia berargumen bahwa AS terlalu lambat belajar dari perang tersebut untuk melindungi pangkalan dan infrastruktur lainnya di Timur Tengah.
"Tantangan di Pasifik jauh lebih besar.
China menghadirkan ancaman yang lebih serius daripada Iran dengan stok drone serta rudal jelajah, balistik, dan hipersonik yang lebih besar dan lebih mampu," ujarnya.
>>> Sopir Ekspedisi Protes Palang Parkir Berbayar di Kawasan Industri Serang
"Pangkalan militer AS dan infrastruktur lainnya di seluruh Pasifik — dari Jepang dan Filipina hingga Guam dan Korea Selatan — sangat rentan terhadap rudal dan drone China serta Korea Utara," tambahnya.
Pakar tersebut mendesak AS untuk serius melindungi infrastruktur kritisnya, termasuk meningkatkan pertahanan aktif seperti sistem pertahanan udara yang dapat mengidentifikasi, menembak jatuh, atau mengganggu rudal dan drone yang masuk.
Ia juga menyerukan AS untuk meningkatkan pertahanan pasif, seperti menggali fasilitas bawah tanah untuk infrastruktur vital, meningkatkan penggunaan kamuflase, penyembunyian, dan penipuan, serta menyebarkan fasilitas militer agar lebih sulit diserang lawan.
"AS telah membayar harga mahal karena tidak siap di dunia yang dipenuhi drone dan rudal. Akankah militer AS belajar sebelum harga semakin mahal?"
tanyanya.
>>> Profil Mazaki Ahmad: Nama Asli, Karier, hingga Fakta Biodata
"China, Iran, Korea Utara, dan Rusia menunggu untuk melihat," pungkasnya.
