Motorola kembali mengejutkan dunia teknologi dengan konsep ponsel lipat yang menggabungkan smartphone dan smartwatch dalam satu perangkat.
Konsep ini terungkap melalui dokumen paten yang ditemukan oleh blog teknologi Burnplate dan pembocor gadget Xleaks7.
>>> LG Luncurkan xboom Blast: Speaker Party 220W dengan Baterai 36 Jam
Layar Fleksibel yang Bisa Berubah Bentuk
Dalam rancangan tersebut, sebuah layar fleksibel ultra-tipis dapat dibentangkan menjadi smartphone layar penuh.
Layar juga bisa dilipat dan ditekuk mengikuti bentuk pergelangan tangan, lalu dikunci dengan magnet untuk berubah menjadi smartwatch fungsional.
Cara Kerja: Dari Ponsel ke Jam Tangan
Konsep Motorola memanfaatkan layar fleksibel multi-segmen yang berfungsi ganda.
Saat beralih ke mode smartwatch, kedua ujung perangkat disatukan menggunakan sistem magnet.
Magnet juga berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian ukuran agar pas di berbagai ukuran pergelangan tangan.
Antarmuka otomatis beralih ke tampilan jam, notifikasi, dan widget ringkas.
Untuk kembali ke mode smartphone, pengguna cukup melepas perangkat dari tangan dan membentangkannya tanpa perlu melepas atau memasang komponen tambahan.
Fitur Tambahan: Bisa Jadi Smartphone Konvensional
Paten juga menggambarkan mekanisme alternatif di mana dua bagian perangkat bisa dipisahkan lalu disatukan berdampingan.
Ini membentuk rasio aspek lebih standar seperti ponsel biasa.
>>> iQOO Neo 11 Ultra dan Z11S Resmi Meluncur dengan Baterai Raksasa
Pengguna bisa memilih antara mode smartwatch compact, mode smartphone lipat besar, atau mode smartphone konvensional dengan layar lebih lebar.
Tantangan Teknis yang Harus Diatasi
Meski inovatif, konsep ini menghadapi sejumlah tantangan serius.
Ukuran dan bobot menjadi masalah karena memadatkan komponen smartphone ke bentuk jam tangan kemungkinan menghasilkan perangkat lebih tebal dan berat daripada smartwatch biasa.
Daya tahan layar juga berisiko karena layar fleksibel yang terus ditekuk.
Pengalaman pengguna di layar melingkar mungkin kurang intuitif dibanding jam digital datar.
Baterai memiliki kapasitas terbatas karena ruang sempit di mode wearable.
Belum lagi isu kenyamanan pemakaian sehari-hari apakah orang rela mengenakan 'ponsel di pergelangan tangan' selama berjam-jam.
Masih Tahap Paten, Belum Ada Rencana Produksi
Perlu dicatat, keberadaan paten tidak berarti produk akan diluncurkan.
Motorola belum mengonfirmasi niat untuk memproduksi perangkat ini secara massal.
>>> 5 Game Horor Lokal Paling Seram yang Segera Rilis di Steam
Namun, langkah ini menunjukkan arah eksplorasi desain perusahaan.
